Karajan Kalinyamat

Saka Wikipédia Jawa, bauwarna mardika basa Jawa
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kerajan Kalinyamat
Kerajan Kalinyamat
1527–1599
Kutha krajan Kalinyamat
Basa Jawa
Agama Islam
Pamaréntahan Monarki
?
 •  1527-1536 ¹ Ratu Kalinyamat
 •  1536-1546 ¹ Sultan Hadlirin
 •  1546-1579 Ratu Kalinyamat
 •  1579-1599 Pangeran Arya Jepara
Sajarah
 •  Berdirinya kutha pelabuhan Jepara 1527
 •  Wafatnya Pangeran Arya Jepara 1599
Sadurungé
Sawisé
20px Karajan Majapahit
Kesultanan Demak
Kesultanan Mataram
¹ (1475-1478 sebagai bawahan Kesultanan Demak)
Warning: Value specified for "continent" does not comply

Kerajan Kalinyamat merupakan sebuah kerajan yang berasal terdapat di Kabupatèn Jepara, Dahulunya Kalinyamat dan Jepara merupakan sebuah Kadipaten bawahan dari Karajan Demak, tetapi karena ketika Karajan Demak di pimpin Sunan Prawoto dan Arya Penangsang membunuh Sultan Hadlirin, Maka Wewengkon Kalinyamat dan Jepara mendirikan Karajan sendiri dengan wewengkon kekuasaan Karajan Kalinyamat meliputi Jepara, Kudus, Pati, Juwana, Rembang, Mataram. Sedangkan Tanah Pati dan Hutan Mentaok (Mataram) di buat sayembara untuk siapa saja yang berhasil membunuh Arya Penangsang. Tembok bentengnya membentang di beberapa désa, meliputi Purwogondo, Margoyoso, Kriyan, Bakalan, Robayan dan punjer Kraton / Siti Inggil di Kriyan, kraton Kalinyamat terdapat di daerah Kalinyamatan.

Ètimologi[besut | besut sumber]

Ketika Retna Kencana dan Toyib wis menduduki daerah Jepara, tiba-tiba ada orang yang melapor ke Retna Kencana kalau ada orang Majapahit yang meminta pajeg dengan paksa dan ingin menguasai Jepara, maka Retna Kencana bersama Pangeran Toyib menemui orang tersebut dan bertemu di sungai (sungai tersebut sungai Bakalan), mereka terlibat dalam pertarungan sengit yang sama kuwat hingga tidak ada yang menang dan kalah. Maka Orang Majapahit bertanya kepada Ratna Kencana dan Toyib tentang asal Retna Kencana dan Toyib, maka Retna Kencana menjawab bahwa ia dari Demak dan Toyib menjawab ia dari Campa. Sehingga orang majapahit memberi nama sungai tersebut Kali Kamat (singkatan dari: Demak, Campa dan Majapahit), nanging Retna Kencana ia lebih menghendaki kalau nama sungai tersebut Kali Nyamat. Akhirnya orang majapahit mudur dan papan dekat sungai tersebut dibuat Pagar témbok Benteng yang tinggi dan membangun karaton di dalam bètèng.

Asal-Usul Pangeran dan Ratu Kalinyamat[besut | besut sumber]

thumb|250px|Peta Masa Karajan Kalinyamat Nama asli Ratu Kalinyamat ya iku Retna Kencana, puteri Trenggana, ratu Demak (1521-1546). Pada usia rumaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat.

Pangeran Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Terdapat berbagai versi tentang asal-usulnya. Masarakat Jepara menyebut nama aslinya ya iku Win-tang, seorang saudagar Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pasisir Jepara, dan kemudian berguru padha Sunan Kudus.

Versi lain mengatakan, Win-tang berasal dari Acèh. Nama aslinya ya iku Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah ratu Kesultanan Acèh (1514-1528). Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang mantri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang ya iku ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, ya iku nama baru Toyib.

Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindhah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan désa Kalinyamat yang saat ini berada di wewengkon Kacamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun misuwur dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil punikahi Retna Kencana putri Sultan Trenggana (Raja Demak), sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota kulawarga Karajan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri.

Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir padha penduduk Jepara.

Pemimpin Karajan Kalinyamat[besut | besut sumber]

  • Ratu Kalinyamat (1527-1536)
  • Sultan Hadlirin (1536-1546)
  • Raja Kalinyamat (1546-1579)
  • Pangeran Arya Jepara (1579-1599)

Letak Karajan Kalinyamat[besut | besut sumber]

thumb|250px|Peta Karaton Kalinyamat (Siti Inggil) thumb|250px|Peta Benteng Kalinyamat Letak Karajan Kalinyamat menurut carita keratonya terdapat di dekat dengan Laut itu terbukti dengan ditemukan Siti Inggil/ Bekas Keratonya di Désa Kriyan yang tidak jauh dari dua Désa yang dahulunya ya iku laut/teluk ya iku Désa Teluk Kulon dan Désa Teluk Wétan. Meski kini tidak kelihatan bahwa Désa Teluk Kulon dan Désa Teluk Wétan tilas laut tetapi jika tanah kedua désa tersebut digali hingga 3 mèter akan ditemukan batu karang, pasir laut, hingga kerang-kerang laut maka terbukti bahwa désa ini tilas laut/teluk. Hal itu terjadi kepada setiap warga Désa Teluk Wétan dan Désa Teluk Kulon setiap membuat sumur pasti menemukan pasir laut, kerang-kerang laut, hingga batu karang laut.

Petilasan[besut | besut sumber]

Petilasan Karajan Kalinyamat yang masih ada, ya iku:

Senjata Pusaka[besut | besut sumber]

  • Keris Tegalsambi

Artefak Fisik Kota[besut | besut sumber]

Wujud artefak sebagai tilas yang sifatnya fisik terkait denganperkembangan sajarah Karajan Kalinyamat sebagai Kota Pelabuhan ada dua macam ya iku yang bersifat yasan, maupun yang sifatnya toponim berupa pemukiman atau golongan masarakat. Artefak di mangsa lampau yang sangat berhubungan dengan sajarah Jepara antara lain:

  • Kraton Kalinyamat

Kraton Kalinyamat merupakan papan tinggal Ratu Kalinyamat yangdulunya kaloka sebagai papan bertirakatnya para ratu dan petinggi ratu-ratu Demak dan Sunan Kalijaga. Kraton ini sampai saat ini belum ditemukan reruntuhannya, namun berdasarkan informasi warga sakiwa-tengené, ketika menggali pondasi bisa dipastikan menemukan batu bata sebagai reruntuhan kraton. Didalamnya juga dinuga terdapat Siti Hinggil danTaman Karaton.

  • Taman Kraton Kalinyamat dan Siti inggil

Taman Karaton berada di dalam karaton dengan unsure air, kolam dankura-kura sarta Siti Hinggil sebagai papan paseban. Konsep tamankeraton ini sama dengan taman-taman karaton seperti di Karaton Jogja dengan Taman Sari-nya, Cirebon dengan Sunyaragi, yang disamping menambah keindahan juga sebagai papan persembunyian.

  • Benteng Karaton Kalinyamat

Di Karaton Kalinyamat diyasa juga bètèng sepanjang kurang lebih 5–6 km seluas 4 km2 dengan batu bata 20/25 selebar 2,5 m sebagai jalur penjagaan. Batas bètèng Jalan Jepara Kudus, Kali Bakalan, dan Kali Krecek (Kali Sesek).

Karaton[besut | besut sumber]

Karaton merupakan papan dimana pamaréntahan di jalankan. Karajan Kalinyamat memiliki dua karaton, ya iku:

  • Karaton Kalinyamat, di Kriyan

Kanjeng Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono, lair rabu pahing, Romadlon 1514. Putri dari Kanjeng Sultan Trenggono,Sultan Demak (1504-1546) dengan Roro Purbayan. Retno Kencono diberi kekuasaan memimpin Jepara padha Tanggal 10 April 1527 (TrusKaryo Tataning Bumi) karena diberi Amanat olèh Faletehan yang akan pergi menyerang Portugis di Sunda Kelapa yang akhirnya menjadi Sultan disana 22 Juni 1527. Retno Kencono juga resmi disyahkan olèh Kanjeng Sultan Trenggono, ayahnya. Sehingga padha 1 Juni 1527 dimulai pembuatan Karaton di Kalinyamatan, Jepara. Pada 12 Agustus 1527 Retno Kencono melantik Pejabat Keratonnya. Tahun 1528 Kanjeng Ratu Kalinyamat pergi ke Cirebon. Disana bertemudengan perempuan yang sangat sakti dengan ilèn Tauhid Hakikat ‘’Manunggaling Kawulo Gusti’’. Perempuan asal Acèh keturunan Mesir, yang bernama Nur Hasnah, berjuluk Syeh Siti Jenar, dengan rambut bersanggul di atas kepala dan berkerudung warna kuning Emas banyak disangka sebagai rambut jénggot seorang laki-laki. Karaton Kalinyamat menghadap ke timur dengan 3 Pintu Gerbang, ya iku:

  1. PintuGerbang kapisan saat ini berada di wates Jepara Kudus, berupa hutan sampaike pintu kedua.
  2. Pintu Gerbang kedua berupa dua pohon pisang kembar yang saat ini berada di DesaGedangan, berupa tanah lapang sampai pintu Gerbang katiga. Disitu hanyatersedia 2 kursi tamu, dan seekor macan Klawuk.
  3. Pintu Gerbang katiga, saat ini berada di Désa Kriyan Langsung menuju Siti Inggil Kriyan saat ini berada di belakang SMP Islam Sultan Agung 3 Kalinyamatan, sebagai papan penerimaantamu. Di pérangan belakang Pura digunakan sebagai papan berdakwah Kanjeng Syeh Siti Jenar dalam menyebarkan Tauhid Hakikat. Dan Kanjeng Ratu Kalinyamat ya iku murid kesayangan Syeh Siti Jenar. Kanjeng Ratu Kalinyamat sangat menyukai kerudung warna merah.

Sebagai seorang yang beraliran Tauhid Hakikat. Kanjeng Ratu Kalinyamat mejadikan Istananya hanya dihuni perempuan. Patih yang bernama Sri Rahayu Anjani. Panglima Perang, Sri Rekso Arum. Juru masak, Sri Anjani Kerto Rahayu. Algojo, Sri Endang Lesmono. Telik Sandi, Rinjani. Dayang Retno Dumilah, Roro Sumangkin. Guru spiritual, Syeh SitiJenar. Cuma telik Sandi Panji Lanang, satu-satunya priya. Namun kerjanya di luar Gerbang Karaton. Hewan-hewan peliaraan karaton hampir semuanya lanang. Ada harimau tunggangan bernama Penggolo. Burung Garuda Emas, Kera Surya kencono, Tikus Piti, Kidang Kencana, Naga Kencana, Kerang Cangkang Wojo, Keong Buntet, dan ditambah lagi Bunga Kenanga Putih kesukaan Kanjeng Ratu Kalinyamat. Kedelapanhewan dan ditambah satu Bunga Kenanga Putih, dilambangkan dengan adanya Tundan Songo. Tundan Songo saat ini ya iku tangga masuk menuju Astana Mantingan.

  • Karaton Mantingan, di Mantingan

Sultan Trenggono memberikan tanah dan biaya untuk mendirikan Karaton Islam di Mantingan kepada Sunan Hadlirin danWali Songo. Sunan Hadlirin juga ditunjuk Sebagai Sultanya. Dan diberi gelar “Sultan Hadlirin”. Persaingan penyebaran Agamasangat ketat antara Wali Songo yang berpadepokan di Kasultanan Mantingan denganTauhid Hakikat yang bermarkas di Karaton Kalinyamat. Selama tiga taun para Wali mendirikan Karaton. Di depan karaton ada pagar yang dihuni 10 buntut Kerbau. Dikandang kerbau juga terdapat genangan air yang ingaran Belik yang tidak pernah kering. Sehingga padha mangsa itu, Karaton Mantingan ingaran Karaton Kandhang Kerbau. Kanjeng Ratu Kalinyamat penasaran dengan Sultan Hadlirin yang diberi kekuasaan baru olèh ayahnya. Kanjeng Ratu Kalinyamat sok berpura-pura menyerang Kesultanan Mantingan dengan alasan urusan perbedaan agama, agar bisa bertemu dengan RadenToyib. Setelah bertemu, Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin sama-sama tiba hati. Setelah Sunan Hadirin punikah dengan Ratu Kalinyamat maka Kesultanan Mantingan dan Karajan Kalinyamat melebur menjadi Kesultanan Kalinyamat dan punjer pamaréntahan dipindahkan ke Karaton Astana Mantingan. Abdul Jalil, Kerabat Kanjeng Sunan Hadlirin, dijadikan Telik sandi Karaton Jepara pérangan utara. Telik sandi pérangan selatan dipercayakan padha seorang permpuan bernama Sanjang yang saat ini Makamnya di désa Petekeyan, Tahunan, Jepara.

Kéwan-Kéwan Karaton[besut | besut sumber]

Ratu Kalinyamat kaloka tegas tetapi Ratu Kalinyamat memiliki hati yang lembut, karena Ratu Kalinyamat memiliki beberapa hewan peliharaannya, Hewan-hewan peliaraan Karaton Kalinyamat hampir semuanya lanang, ya iku:

  • Harimau Penggolo (Harimau Tunggangan Ratu Kalinyamat, juga tunggangan Sultan Hadlirin)
  • Macan Klawuk
  • Burung Garuda Emas
  • Kera Surya Kencono
  • Tikus Piti
  • Kidang Kencana
  • Naga Kencana
  • Kerang Cangkang Wojo
  • Keong Buntet
  • Kuda Kencono Putih
  • Kuda Kencono Wangi

Masa Keemasan[besut | besut sumber]

Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan olèh juru nulis Portugis Diego de Couto, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa. Selama 30 taun kekuasaannya (1549-1579), ia berhasil membawa Jepara ke pucuk kejayaannya. Meski padha hakikatnya Jepara merupakan pérangan dari Kesultanan Demak, nanging kanthi de facto Jepara memiliki kekuasaan dan kewibawaan paling tinggi. Pada waktu itu Kesultanan Demak dipanggedhèni olèh Pangeran Pangiri, putra bungsu Sultan Trenggana. Nanging prabawa Demak tidaklah sehebat prabawa Jepara. Hal ini disebabkan karena Jepara sangat kuwat dalam babagan ékonomi dan militèr.

Ratu Kalinyamat berhasil menghidupkan kembali perékonomian Jepara yang telah porak poranda akibat perang saudara yang berkepanjangan. Ia menjadikan pelabuhan Jepara sebagai pelabuhan transit bagi dagang nusantara. Saat itu Pelabuhan Jepara sangat ramai olèh pedagang-pedagang dari Ambon yang membawa bumbon crakèn. Jepara, Banten, Semarang mernjual beras bagi para pedagang Ambon. Sedangkan Ambon menjadi produsen bumbon crakèn bagi seluruh kraton di Jawa. Tercatat pedagang-pedagang Acèh, Malaka, Banten, Demak, Semarang, Tegal, Bali, Makassar, Banjarmasin, Tuban dan Gresik turut meramaikan pelabuhan Jepara. Dapat dikatakan Pelabuhan Jepara menjadi papan transaksi dagang berskala internasional. Ratu Kalinyamat pun memungut cuké bagi setiap kapal yang bertransaksi di Pelabuhan Jepara. Hasil dagang beras dan cuké tersebut menjadikan Jepara sebagai Karajan yang makmur, kaya raya.

Dengan kekayaannya, Ratu Kalinyamat membangun armada Laut yang sangat kuwat untuk melindungi karajannya yang bercorak maritim. Sebagai Karajan Maritim yang bercorak Islam, Karajan Jepara sangat dihormati dan disegani olèh kraton-kraton Islam lainnya. Kekuatan armada laut Karajan Jepara wis tersohor di seluruh nusantara. Banyak kraton-kraton lain yang meminta bantuan armada laut Jepara untuk melindungi negerinya. Saat itu Ratu Kalinyamat sangat berprabawa di Pulau Jawa. Ia ya iku Ratu yang memiliki posisi pulitik yang kuwat dan kondisi ékonomi yang kaya raya. Ia menjalin gayutan diplomatik yang sangat baik dengan Karajan-kraton Maritim Islam lainnya. Jepara menjalin gayutan diplomatik dengan Karajan Johor, Kesultanan Acèh, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Ambon dan Kesultanan Demak.

Masa Kemunduran[besut | besut sumber]

Ratu Kalinyamat tidak mempunyai anak olèh itu kemenakannya, yang dijadikan anak angkat, bernama Pangeran Jepara (anak Sultan Maulana Hasanudin dari Kesultanan Banten), menggantikannya sebagai penguasa Jepara. Pangeran, yang diberitakan pernah berusaha menduduki singgasana Banten dan berhasil menduduki Bawean ini, berkuasa sampai taun 1599. Kekuasaannya berakhir karena prajurit Panembahan Senapati dari Mataram datang menyerbu. Jepara diduduki dan kutha Kalinyamat dihancurkan. Tidak ada kabar mengenai nasib kulawarga penguasa dan orang-orang wigati Jepara waktu itu. Sejak saat itu pula Jepara dipanggedhèni olèh punggawa setingkat bupati yang ditunjuk olèh Kesultanan Mataram.

Kematian Pangeran Kalinyamat[besut | besut sumber]

Pada taun 1549 Sunan Prawata ratu keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi bupati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap padha mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan.

Sunan Kudus ya iku pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal ratu Trenggana (1546). Ratu Kalinyamat datang menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus menjelaskan semasa mudha Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Sekar Séda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal.

Ratu Kalinyamat kuciwa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat tewas. Konon, ia sempat merambat di tanah dengan sisa-sisa tenaga, sehingga olèh penduduk sakiwa-tengené, daerah papan meninggalnya Pangeran Kalinyamat ingaran désa Prambatan.

Menurut carita. Selanjutnya dengan membawa jenazah Pangeran Kalinyamat, Ratu Kalinyamat meneruskan lelampahan sampai padha sebuah sungai dan darah yang berasal dari jenazah Pangeran Kalinyamat menjadikan air sungai berwarna ungu, dan kemudian misuwur daerah tersebut dengan nama Kaliwungu. Semakin ke barat, dan dalam kondisi lelah, kemudia melewati Pringtulis. Dan karena selahnya dengan berjalan sempoyongan (moyang-moyong) di papan yang sekarang misuwur dengan nama Mayong. Sesampainya di Purwogondo, ingaran demikian karena di papan inilah awal keluarnya bau dari jenazah yang dibawa Ratu Kalinyamat, dan kemudia melewati Pecangaan dan sampai di Mantingan.

Ratu Kalinyamat Bertapa[besut | besut sumber]

Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari peristiwa pembunuhan itu. Ia kemudian bertapa telanjang di Gunung Danaraja, dengan sumpah tidak akan berpakaian sebelum berkeset kepala Arya Penangsang. Harapan terbesarnya ya iku adik iparnya, ya iku Hadiwijaya alias Jaka Tingkir, bupati Pajang, karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan bupati Jipang.

Hadiwijaya segan menghadapi Arya Penangsang kanthi langsung karena sama-sama anggota kulawarga Demak. Ia pun mengadakan sayembara yang berhadiah tanah Mataram dan Pati. Sayembara itu dimenangi olèh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan, berkat siasat cerdik Ki Juru Martani.

Serangan Pertama Ratu Kalinyamat ke Malaka padha Portugis[besut | besut sumber]

Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati Jepara. Setelah kematian Arya Penangsang taun 1549, wewengkon Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipanggedhèni ratu Hadiwijaya. Sanajan demikian, Hadiwijaya tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormati.

Ratu Kalinyamat sebagaimana bupati Jepara sebelumnya (Pati Unus), bersikap anti terhadap Portugis. Pada taun 1550 ia mengirim 4.000 wadya Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Éropah itu.

Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan prajurit Persekuthuan Malayu hingga mencapai 200 kapal perang. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sapérangan Malaka. Namun Portugis berhasil membalasnya. Pasukan Persekuthuan Malayu dapat dipukul mundur, sawatara prajurit Jepara masih bertahan.

Baru setelah pemimpinnya palastra, prajurit Jepara ditarik mundur. Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pasisir dan laut yang menewaskan 2.000 prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga dua buah kapal Jepara terdampar kembali ke pasisir Malaka, dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tidak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka.

Serangan Kedua Ratu Kalinyamat ke Malaka padha Portugis[besut | besut sumber]

Pada taun 1564, Sultan Ali Riayat Syah dari Kesultanan Acèh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu Demak dipanggedhèni seorang bupati yang mudah cubriya, bernama Arya Pangiri, putra Sunan Prawata. Utusan Acèh dibunuhnya. Akhirnya, Acèh tetap menyerang Malaka taun 1567 sanajan tanpa bantuan Jawa. Serangan itu gagal.

Pada taun 1573, sultan Acèh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara. Pasukan yang dipanggedhèni olèh Ki Demang Laksamana itu baru tiba di Malaka bulan Oktober 1574. Padahal saat itu prajurit Acèh wis dipukul mundur olèh Portugis.

Pasukan Jepara yang terlambat datang itu langsung menembaki Malaka dari Selat Malaka. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Nanging akhirnya, pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara wiwit terdésak, namun tetap menolak perundingan damai karena terlalu menguntungkan Portugis. Sementara itu, sebanyak enam kapal perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat direbut Portugis. Pihak Jepara sangsaya lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sakiwa-tengené sepertiga saja yang tiba di Jawa.

Sanajan dua kali mengalami kekalahan, namun Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya sebagai rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti "Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani".

Serangan Ratu Kalinyamat ke Ambon padha Portugis[besut | besut sumber]

Ratu Kalinyamat tidak pernah jera. Pada taun 1565 ia memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative.

Anak Angkat Ratu Kalinyamat[besut | besut sumber]

Ratu Kalinyamat meninggal donya sakiwa-tengené taun 1579. Ia dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di désa Mantingan. Semasa hidupnya, Ratu Kalinyamat membesarkan tiga orang nom-noman, ya iku:

  • Pangeran Timur Rangga Jumena

Yang kapisan ya iku adiknya, ya iku Pangeran Timur Rangga Jumena putera bungsu Trenggana yang kemudian menjadi bupati Madiun.

  • Arya Pangiri

Yang kedua ya iku keponakannya, ya iku Arya Pangiri, putra Sunan Prawata yang kemudian menjadi bupati Demak.

  • Pangeran Arya Jepara

Sedangkan yang katiga ya iku sepupunya, ya iku Pangeran Arya Jepara putra Ratu Ayu Kirana (adik Sultan Trenggono).

Keruntuhan[besut | besut sumber]

Ayah Pangeran Arya Jepara ya iku Maulana Hasanuddin ratu kapisan Banten. Ketika Maulana Yusuf ratu kedua Banten meninggal donya taun 1580, putra mahkotanya masih kecil. Pangeran Arya Jepara berniat merebut takhta. Pertempuran terjadi di Banten. Pangeran Jepara terpaksa mundur setelah ki Demang Laksamana, panglimanya, palastra di tangan patih Mangkubumi Kesultanan Banten.

padha mangsa pamaréntahan Pangerang Jepara ini terjadi pemberontakan di Pajang olèh Mataram yang berakhir dengan kekalahan pihak Pajang. Sehinnga pemberontakan[1] ini terjadi padha taun 1578 mengakibatkan keruntuhan Kesultanan Pajang.

Dua belas taun kemudian, tiba giliran Jepara di serang bala wadya Mataram. Agaknya kali ini Jepara keteteran membendung serangan Mataram yang dahsyat. Karena Pangeran Arya Jepara sendiri meninggalkan Jepara untuk membesuk ayahnya ya iku Maulana Hasanuddin. Maka tak ayal lagi, Kalinyamat yang merupakan kutha krajan Karajan Jepara bernasib serupa dengan kutha krajan Kesultanan Pajang yang berada di Pajang. Peristiwa ini terjadi padha taun 1599 M yang meruntuhkan kekuasaan Karajan Kalinyamat yang di kenal dengan sebutan Bedhahe Kalinyamat.

Kepustakaan[besut | besut sumber]

  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • De Graaf HJ, Pigeaud ThGT. 2001. Karajan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara padha Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sajarah Nasional Direktorat Sajarah dan Aji Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Wiyata Nasional.

Réferènsi[besut | besut sumber]

  1. nadaekanovaatasya.blogspot.com/2013/03/sajarah-dan-asal-usul-ratu-kalinyamat.html

Krajan Majapait lan Kasultanan Demak > | Kerajan Kalinyamat | > Kasultanan Pajang lan Kasultanan Mataram


 
Krajan ing Jawa

0-600 (Hindu-Buddha Mataram Kuna): Salakanagara | Tarumanagara | Galuh | Sundha | Kalingga | Kanjuruhan
600-1500 (Hindu-Buddha): Mataram Kuna, Medhang, Kahuripan, Janggala, Pangjalu, Singhasari, Majapahit, Pajajaran, Blambangan
1500-saiki (Islam): Demak, Pajang, Banten, Cirebon, Sumedang Larang, Mataram Enggal, Yogyakarta, Surakarta, Mangkunagaran, Pakualaman

Cithakan:Karajan di Jawa


Cithakan:Sajarah-indo-stub