Dardanella

Saka Wikipédia Jawa, bauwarna mardika basa Jawa
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kelompok Sandiwara Dardanella

Dardanella ya iku jeneng sawijining kelompok sandiwara sing digawé ana ing Sidoarjo, Jawa Wétan tanggal 21 Juni taun 1926. Digawé déning Willy Klimanoff, wong sèng asalé saka Ruslan sing lair ing Penang, Malaysia. Sateruse Willy ,ganti jeneng luwih kakenal kaliyan jeneng A. Piedro. Sedurunge kelompok Dardanella iki lair wis ana kelompok-kelompok sandiwara profésional sing luwih disik kakenal, salah sawijiné ya iku kelompok Opera Miss Riboet. Kelompok sandiwara Dardanella iki mungkin kui rombongan kelompok kesenian wiwitan ing Indonésia sing duwé réputasi internasional. Terlihat dari riwayat pertunjukannya yang menjelajah hingga ke empat bawana, wiwit dari Singapura, Rangoon, Madras, Calcuta, New Delhi, Bombay, Baghdad, Basra, Kairo, Roma, Muenchen, Warsawa, Amsterdam, hingga kutha-kutha di Amérika.[1] Dardanella dianggap sebagai pembenih sandiwara modhèren Indonésia. Mereka merombak beberapa tradisi yang telah lajim padha mangsa stambul, bangsawan, dan opera, seperti: membuat pembagian episode yang lebih ringkas, menghapuskan adegan perkenalan para tokoh sebelum bermain, menghilangkan selingan nyanyian atau jogèd di tengah adegan, menghapus pakulinan memainkan sebuah lakon hanya dalam satu malam pertunjukan, dan objek carita wis wiwit berupa carita-carita asli, bukan dari hikayat-hikayat lama atau carita-carita yang diambil dari filem-filem kaloka (Oemarjati, 1971: 30-31).[2]

Biografi[besut | besut sumber]

Dardanella lair ing tengah-tengah mangsa kejayaan Miss Riboet utawa luwih misuwur kanthi jeneng Miss Riboet Orion. Ora heran motivasi kelairan Dardanella nyaingi kepopuleran, kasilan, lan kesuksesan kelompok Miss Riboet. Miss Riboet populèr lan sukses berkat bintang panggung kang ayu rupané, ya iku Miss Riboet. Kanggo nyaingi ketenaran Miss Riboet, Dardanella ngetengahake bintang kang lagi nanjak jenenge ya iku Tan Tjeng Bok, kang mirunggan meranke tokoh pahlawan kang ahli mainke pedang. Ana ing perkembangan selanjute, bintang-bintang kaya Devi Dja (luwih misuwur kanthi jeneng Miss Dja) lan Astaman nggabung marang Dardanella. Uga nyusul Andjar Asmara lan Njoo Cheong Seng nggabung dadi juru nulis naskah. Kang kapindho juru nulis naskah iku wani nampilke carita-carita kang radha "abot" lan "problematik" amarga mereka sadhar yèn penonton rombongan sandiwara iku ana kang saka golongan terpelajar. Meski demikian, Dardanella ora nglaliake sesanti kang dinggo ana ing pertunjukanne, ya iku "wenehi tontonan kang muaske publik".[3].

Basa yang digunakan para juru main Dardanella ya iku basa Melayu, demikian pula bila sedang mementaskan lakon-lakon yang ditulis dalam basa asing, para pemainnya menggunakan basa Melayu. Misalnya, lakon-lakon "Victor Ido" yang ditulis dalam basa Walanda. Tradisi sandiwara yang dikembangkan Dardanella tidak banyak berbeda dengan tradisi komedi bangsawan. Dalam perkembangannya, mereka menampilkan lakon yang mengarah kepada pencaritaan lakon-lakon yang lebih realistis. Realisme yang dimaksud ialah melihat peristiwa sehari-hari yang dialami setiap saat (ilusi kenyataan), bahwa sebuah pementasan bukanlah sekedar menyajikan carita, tetapi ada pesonanya, yakni yang seakan-akan bersungguh-sungguh, suatu permainan yang menimbulkan rangsangan pikiran bahwa yang terjadi di panggung bisa pula terjadi padha penonton[2].

Konsepsi estetika realisme yakni semangat impresionis. Tidak lagi menggubris pesan-pesan sajarah, kitab suci, tetapi langsung memberikan kesan tentang persoalan-persoalan padha pokok temanya. Konsepsi realisme ingin menohok konsepsi romantisisme yang cenderung menjadikan panguripan seperti mimpi. Dalam hal ini pementasan Dardanella tidak lagi menampilkan epos Ramayana yang merupakan modhèl pementasan tradhisional, akan tetapi Dardanella lebih banyak memainkan naskah-naskah yang sedang terjadi padha masarakat sakiwa-tengené. Misalnya, lakon Nyai Dasima dan Si Conat. Namun akhirnya sama sekali meninggalkan tradisi komedi bangsawan, lakon dimainkan sama sekali tanpa nyanyian. Tidak hanya dalam tradisi lakon, dalam tradisi pementasannya pun Dardanella juga banyak melakukan perombakan.[3] Semangat modernitas yang diyasa olèh Dardanella terlihat dalam setiap pertunjukannnya telah memakai scrip atau naskah, pengadaan properti, kostum, make-up, juga melakukan pementasan yang wutuh, artinya, teater Dardanella menghilangkan konvensi-konvensi lelucon dan jogèd-jogèd yang memberikan kesenangan lebih padha penonton. Dardanella melalui A. Piedro dan Andjar Asmara telah melakukan sistem manajerial pertunjukan kanthi profésional yang merupakan supra struktural dari suartu pertunjukan. Hal ini yang merupakan ciri dari teater modhèren dengan semangat realisme.[2]

Berkaitan dengan Sumpah Pemuda[besut | besut sumber]

Menjelang dan saat-saat Sumpah Pemuda digelar padha Oktober taun 1928, rombongan sandiwara Dardanella sedang sibuk-sibuknya pentas keliling kutha-kutha di Nusantara. Sebuah makarya artistik yang tak banyak diketahui, juga bermuatan dan menyebarkan semangat kemerdekaan, bahkan mempraktikkan gagasan tentang Tanah Air, bangsa, dan basa yang satu: Indonésia. Bahkan sebagaimana semua lakon yang mereka mainkan di banyak kutha Nusantara, mereka mengampanyekan penggunaan basa itu kepada seluruh penontonnya. Fakta relasional antara Sumpah Pemuda dan makarya artistik atau kesenian ini tercatat dalam buku Gelombang Hidupku: Devi Dja dari Dardanella, yang ditulis sastrawan kawakan Ramadhan KH. Sebagaimana judulnya, buku ini memang biografi Soetidjah alias Devi Dja, sang primadona Dardanella. Yang karena begitu identiknya pencitraan di antara keduanya, kisah ini dapat dikatakan juga merupakan biografi dari kelompok itu sendiri.[1]

Mendunia[besut | besut sumber]

Pertunjukan mereka di Rangoon dan New Delhi sempat ditonton tiga tokoh besar pulitik modhèren India: Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru, dan Rabindranath Tagore. Kemudian, saat menggelar pertunjukan di Muenchen, pemimpin besar Jerman kala itu, Adolf Hitler, sempat berniat datang menyaksikan. Akan tetapi, karena alasan kedaruratan, rencana itu dibatalkan[1]. Pada zamannya, Dardanella mungkin dikategorikan sebagai seni pop. Sebuah jinis kesenian yang di mana pun dan padha mangsa apa pun selalu memiliki jangkauan publik yang besar. Pertautannya dengan selera publik yang besar inilah yang membuat seni pop kadang dikategorikan sebagai seni yang ”tidak serius”. Sebuah alasan yang mungkin membuat Dardanella tidak diperhitungkan perannya dalam sajarah perjuangan nagari ini.[1]

Peran pers dan sastra ”pop” berbasa Melayu Pasar seperti yang banyak ditulis olèh kalangan keturunan Tionghoa, sebagaimana terindikasi olèh Ben Anderson, memiliki peran signifikan dalam penyebaran gagasan kebangsaan itu. Dardanella jelas bukan suatu jinis pangecapanan. Akan tetapi, dengan basa Melayu yang digunakan dalam setiap pementasannya di berbagai kutha di Indonésia hingga akir 1930-an, dan selalu dipenuhi penonton itu, perannya dalam penyebaran basa Melayu pastilah tidak kecil. Lebih-lebih mengingat tingkat kemampuan untuk membaca yang masih sangat cendhèk padha saat itu. Keanggotaan Dardanella sendiri merepresentasikan ”keindonesiaan” yang luas. Para pemainnya datang dari berbagai suku di Indonésia: Jawa, Ambon, Minang, Sunda, Sumbawa, dan lainnya, sarta juga para peranakan indo. Khusus peran para peranakan-indo di dalam Dardanella ini, selaras dengan tesis Ben Anderson tentang pentingnya peran ”kreol”, membuktikan bagaimana pembauran etnik (lokal dan lokal maupun dengan asing) menjadi faktor yang signifikan dalam pembentukan kesadaran sarta praktis kebangsaan di nagari ini.[1]

Réferènsi[besut | besut sumber]

  1. a b c d e Dardanella di Kompas.com, Kompas.com, diakses 23 April 2011
  2. a b c Dardanella di Indonésiacinematheque, indonesiacinematheque, diakses 23 April 2011
  3. a b Dardanella di Jakarta go.id, Jakarta go.id, diakses 23 April 2011

Pranala njaba[besut | besut sumber]