Wader cakul

Saka Wikipédia Jawa, bauwarna bébas abasa Jawa
Wader cakul
Punti binot 090519-8585 kdBdk.jpg
Wader cakul, Puntius binotatus
saka Ciliwung, Bogor
Secure
Klasifikasi ngèlmiah
Karajan: Animalia
Filum: Chordata
Klas: Actinopterygii
Ordho: Cypriniformes
Famili: Cyprinidae
Génus: Puntius
Spésies: P. binotatus
Jeneng binomial
Puntius binotatus
(Valenciennes, 1842)
Se asia-my-th-ma-is.PNG
Wewengkon sebaran Puntius binotatus

Wader cakul sijining iwak cilik anggota suku Cyprinidae anak-suku Cyprininae. Iwak iki sumebar ing Indonésia sisih kulon (Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, lan Lombok), Indocina, lan Filipina. Sebutan ing laladan liya antarané beunteur (Sd.), wader cakul utawa wader lumrahé (Jw.), puyan (Bjr.), tanah utawa sepadak (Bengkulu) lan sapiturute.[1]

Dalam basa Inggris kaloka sebagai spotted barb atau common barb, ikan wader bintik-dua semula dideskripsi olèh Achille Valenciennes padha 1842 dengan nama Barbus binotatus (Barbus, sungut, merujuk padha sungut-sungut pendek di ujung moncongnya; binotatus, bernoktah dua). Sebelumnya, padha 1823 ikan ini sebetulnya telah dinamai olèh van Hasselt sebagai Barbus maculatus (maculatus = berbintik-bintik), namun dianggap tidak sah karena tidak dibarengi dengan pemerian.[1] Penempatannya dalam marga seringkali berubah-ubah, sehingga dalam literatur ikan ini acap pula ingaran dengan nama-nama lain seperti Systomus binotatus, Capoeta binotata, dan Barbodes binotatus.

Pemerian[besut | besut sumber]

thumb|left|200px|Ikan mudha sepanjang 22mm SL Ikan berukuran kecil-sedang, panjang total (dengan ekor) umumnya hingga 100mm; jarang lebih besar, namun dapat mencapai 170mm. Bersungut empat di ujung moncongnya, dan dengan gurat sisih yang sampurna (tidak terputus) berjumlah 23-27. Sirip dorsal (punggung) dengan 4 duri dan 8 jari-jari lunak; duri yang terakhir bergerigi di belakangnya. Awal sirip dorsal berjarak 4½ sisik dengan gurat sisih.[1][2]

Warna dan wujud tubuh ikan ini amat berubah-ubah. Kebanyakan berwarna klawu kehijauan, zaitun, atau keperakan, dengan warna yang lebih gelap di pérangan punggung berangsur-angsur memucat dan keputihan di sisih dhadha dan perut. Dua bintik besar biyasa terdapat, yakni di pangkal sirip dorsal dan di tengah batang ekor (peduncle). Di samping itu, padha ikan-ikan yang mudha sering pula terdapat 1-3 bintik tambahan di tengah badan yang terletak padha sebuah coret samar memanjang di sisih tubuh di belakang tutup insang, dan satu bintik di awal sirip anal. Bintik-bintik ini umumnya akan memudar dan menghilang padha spésimèn-spésimèn yang besar.[1]

Ekologi[besut | besut sumber]

[[Berkas:Rasbo argyr 080518 9289 tdp.jpg|thumb|left|200px|Wader bintik-dua (bawah) bersama dengan lunjar padi (atas)]] Di alam, wader bintik-dua ditemukan wiwit dari dekat pasisir hingga ketinggian sekitar 2.000 m dpl. Ikan ini sering ditemukan bercampur dengan spésies wader lainnya di parit-parit dangkal yang jernih, sungai kecil di pagunungan, sungai berukuran menengah hingga yang besar, saluran yang mengalir lambat, dan bahkan juga situ dan tlaga. Wader ini cenderung bersifat omnivora, memakan wiwit dari plankton, larva serangga, hingga ke serpih-serpih tumbuhan hijau. Kondisi lingkungan alaminya adalah perairan tropika dengan pH antara 6.0–6.5 (agak asam), kesadahan air sekitar 12.0 dGH, dan kisaran suhu antara 24–26 °C (75–79 °F).[3]

Wader bintik-dua memijah di perairan terbuka padha saat menjelang gelap. Setiap kali bertelur, ikan ini menyebarkan antara 200–500 butir telur di antara tumbuh-tumbuhan air. Telur-telur ini akan menetas sekitar 48 jam kemudian, dan selama beberapa hari berikutnya burayak (anak ikan) akan berlindung di sela-sela daun tanaman air. Ikan wader diwasa tidak akan segan-segan untuk memangsa telur ataupun burayak dari jinisnya sendiri.[4]

Manfaat[besut | besut sumber]

Wader bintik-dua merupakan ikan konsumsi yang disukai, namun hanya bernilai kanthi lokal. Di Jawa Barat, beunteur sering dipancing untuk rekreasi. Akan tetapi di luar nagari ikan ini mempunyai aji komersial yang cukup wigati sebagai ikan hias bagi akuarium.

Rujukan[besut | besut sumber]

  1. ^ a b c d Weber, M. and L.F. de Beaufort. 1916. The Fishes of The Indo-Australian Archipelago III:186-189. E.J. Brill. Leiden.
  2. ^ Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, dan S. Wirjoatmodjo. 1993. Ikan Air Tawar Indonésia Pérangan Barat dan Sulawesi. Periplus dan Proyek EMDI KMNKLH. Jakarta. ISBN 0-945971-60-5. p.57.
  3. ^ Puntius binotatus padha laman FishBase. Diakses 14 Mèi 2009
  4. ^ Sastrapradja, S., A. Budiman, M. Djajasasmita, dan C.S. Kaswadji. 1981. Ikan Hias. LBN - LIPI. Bogor. hal. 16-17.

Pranala njaba[besut | besut sumber]