Meutya Hafid

Saka Wikipédia Jawa, bauwarna mardika basa Jawa
Menyang navigasi Menyang panggolèkan
Meutya Hafid
Barkas:Meutya hafid.jpg
Lair (1978-05-03) Mèi 3, 1978 (umur 42)
Indonésia Bandung, Jawa Barat, Indonésia
AlmamaterUniversitas New South Wales
PakaryanPresenter dan Anggota DPR
Taun aktif2000–2010, 2010-sekarang
AgamaIslam
Wong tuwaalm. Anwar Hafid dan Metty Hafid

Meutya Viada Hafid (lair ing Bandung, Jawa Barat, 3 Mèi 1978; umur 42 taun) ya iku anggota Komisi I DPR Républik Indonésia dari Parté Golkar pada masa kalungguhan taun 2009-2014. Sebelumnya ia bekerja sebagai wartawan di Metro TV. Di Metro TV, Meutya membawakan berita sarta menjadi presenter di beberapa acara.

Tragedi Penyanderaan[besut | besut sumber]

Pada 18 Fèbruari 2005, Meutya dan rekannya juru kodhak Budiyanto diculik dan disandera olèh sekelompok priya bersenjata ketika sedang bertugas di Irak. Kontak terakhir Metro TV dengan Meutya ya iku pada 15 Fèbruari, tiga hari sebelumnya. Mereka akhirnya dibebaskan pada 21 Fèbruari 2005. Sebelum ke Irak, Meutya juga pernah meliput tragedi tsunami di Acèh.

Pada tanggal 28 September 2007, Meutya melaunching buku yang ia tulis sendiri, ya iku 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak. Présidhèn Susilo Bambang Yudhoyono pun turut menyumbangkan tulisan untuk pérangan pengantar dari buku ini. Selain présidhèn, beberapa tokoh lainnya pun menyumbangkan tulisannya yakni Don Bosco Selamun (Pemimpin Redaksi Metro TV 2004-2005) dan Marty Natalegawa (Mantan Juru Bicara Departemen Luar Negeri).

Sebagai Jurnalis Televisi[besut | besut sumber]

Pada 11 Oktober 2007, Meutya Hafid terpilih sebagai pemenang Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill, dari pamaréntah Australia. Penghargaan ini dianugerahkan setiap taun untuk mengenang mantan Atase Pers Kedutaan Australia Elizabeth O’Neill, yang palastra dalam tugasnya pada 7 Maret 2007 dalam kecelakaan pesawat di Yogyakarta. Penghargaan diberikan kepada satu orang jurnalis Australia dan satu orang jurnalis Indonésia, diserahkan langsung olèh Duta Besar Australia untuk Indonésia Bill Farmer. Dari Australia, jurnalis ABC Radio Australia bernama Joanna McCarthy terpilih menjadi pemenang. Dengan kemenangan itu, Meutya menjalani program 3 minggu di laladan pedalaman untuk mengembangkan pengertian dan apresiasi lebih baik terhadap isu kontemporer yang dihadapi Australia dan Indonésia. Dubes Farmer menilai Meutya yang saat itu menjadi pembawa acara berita unggulan Metro TV dan acara perbincangan seperti Top Nine News, Today’s Dialogue dan Metro Hari ini, ya iku pilihan “paling tepat” sebagai pekerja keras, profésional dan jurnalis yang berdedikasi dengan pengalaman luar biyasa.[1]

Pada 19 Fèbruari 2008, Meutya meraih penghargaan alumni Australia 2008 untuk kategori Jurnalisme dan Media, bersamaan dengan pemilik grup Lippo Dr. James Tjahaja Riady (alumni University of Melbourne) yang menerima penghargaan serupa untuk kategori kewiraswastaan. Meutya sempat kuliah di University of New South Wales, sebelum kemudian mengabdikan diri sebagai jurnalis Metro TV. Finalis lain di kategori yang sama ya iku Avian Tumengkol (William Angliss Institute) yang menjadi wakil mirunggan urusan kepresidenan dan jaban rangkah, Wishnutama Kusubandio (Kooralbyn International School) yang saat itu menjadi Direktur Utama Trans7, Mohammad Sobary (Monash University) yang menduduki Direktur Eksekutif Kemitraan; dan Rahmad Nasution (University of Queensland), kepala biro Antara. Meutya menjadi satu dari 30.000 pelajar dan mahasiswa Indonésia di Australia dalam 50 taun terakhir yang menunjukkan prestasi gemilang dan berkontribusi besar membuat lingkungan sosial Australia lebih berwawasan dan mendekatkan kedua bangsa. Penghargaan diberikan di hadapan sakiwa-tengené 700 alumnus Australia dan kalangan diplomat RI yang pernah bertugas di Australia. Turut hadir mantan mantri Hartarto dan pengusaha ternama Noke Kiroyan.[2]

Pada 9 Fèbruari 2012, Meutya menjadi satu di antara lima Tokoh Pers Inspiratif Indonésia versi Mizan, karena dianggap sebagai tokoh besar di balik perkembangan pers nasional. Meutya menjadi satu-satunya perempuan yang duduk di antara tokoh pers inspiratif tersebut, dan juga yang termuda meraih penghargaan tersebut. Dia terpilih bersama Tirto Adhi Soerjo. Tirto Adhi Soerjo, perintis pertama ariwarta di Indonésia melalui “Medan Prijaji” pada 1 Januari 1907 di Bandung. Selain itu, juga sastrawan dan pendiri Majalah Tempo Goenawan Mohamad, tokoh pers Indonésia Rosihan Anwar, sarta Andy F. Noya yang menjadi host acara "Kick Andy" di Metro TV. “Kita juga sangsaya sadar bahwa wartawan tak hanya butuh intelektualitas dan wawasan, nanging juga keberanian dan kegigihan. Dan, yang tak kalah pentingnya, Meutya juga menyadarkan pada kita bahwa wartawan bukan hanya profesi kaum priya,” demikian Mizan menyebutkan.[3]

Karir Pulitik[besut | besut sumber]

Pada 2010, Meutya berpasangan dengan H Dhani Setiawan Isma S.Sos sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota Binjai periode 2010-2015, diusung Parté Golkar, Dhémokrat, Hanura, PAN, Patriot, P3I, PDS sarta 16 parté non-fraksi DPRD Binjai. Deklarasi pasangan Dhani-Meutya dijurung Parté Golkar sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota dilaksanakan di Gedung Patar Hall, Jalan Tengku Imam Bonjol, Binjai Kota, pada 17 Fèbruari 2010. Acara deklarasi tersebut dihadiri ribuan massa dengan pengawalan ketat petugas kepulisian kutha Binjai. Sayangnya, Meutya kalah. Saat itu, dinuga ada kesalahan rekapitulasi penghitungan suara di Tingkat PPK Binjai Barat, Binjai Utara, Binjai Timur, Binjai Selatan dan Binjai Kota. Suara Dhani-Meutya juga dinuga berkurang 200, dari seharusnya 22.287 menjadi 22.087 suara. Perolehan suara Dhani-Meutya juga banyak yang dibatalkan karena kertas suara dicoblos hingga pérangan belakang kanthi simetris, dan banyaknya dan kertas suara yang robek di pérangan tengah sehingga menguntungkan calon pasangan tertentu. Meutya berupaya mencari keadilan ke Mahkamah Konstitusi dan meminta penghitungan kembali kotak suara sisan mencari kebenaran pelaksanaan Pilkada di Kota Binjai karena dinuga ada kesalahan penghitungan suara di beberapa TPS, Kacamatan Binjai Barat berdasarkan temuan-temuan saksi di tiap-tiap TPS. Sayangnya, MK memutuskan menolak permohonan Meutya dengan alasan tidak cukup bukti.[4][5]

Pada bulan Agustus 2010, ia dilantik menjadi Anggota DPR antar waktu dari Parté Golkar menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal donya[6].

Ketika organisasi massa yang didirikan Surya Paloh, yakni Nasional Dhémokrat, berganti baju menjadi parté pulitik pada 25 Juli 2011, Meutya yang dekat dengan Surya Paloh (atasannya ketika berkarya di Metro TV) kalebu di antara kader Golkar yang mundur dari Nasdem. Sekretaris Jenderal Parté Golkar Idrus Marham mengatakan seluruh anggota Fraksi Parté Golkar memilih mundur dari Nasional Dhémokrat. Pengunduran diri kader Golkar itu diumumkan pada Kamis, 11 Agustus 2011 yang merupakan tenggat bagi kader Golkar untuk memilih bertahan di parté berlambang beringin tersebut, atau pindah ke Nasdem. Selain Meutya, kader Golkar lain yang sempat bergabung di Nasdem ya iku Jeffrie Geovani dan Ferry Mursyidan Baldan. Pada hari itu, Meutya Hafid menyatakan di akun Twitternya dengan tegas mengatakan, "sangatlah tak mungkin jika saya menjadi anggota parpol lain." [7]

Teror dari Penggemar Fanatik[besut | besut sumber]

Ketenaran Meutya Hafid ini sempat berujung pada teror dari seseorang bernama Bobby Meidianto. Pria yang dikabarkan depresi sejak 2000 itu mengaku menjadi suami Meutya, dan menyebarkan kabar bohong itu di donya maya. Bobby ya iku warga RT. 1/ RW. VII Kalurahan Panularan, Sala, yang tidak lagi mengurusi istri dan kedua anaknya, ya iku Panji (18 taun) dan Pramudya (8 taun). Bobby disebutkan tinggal berpindah-pindah karena mengalami gangguan kejiwaan. Menurut carita Ny Harsono, mertua Bobby, menantunya ini memang sejak awal punikah terlihat berpotensi mengalami gangguan jiwa. Puncak depresinya terjadi ketika salah seorang adik tirinya datang menanyakan apa benar dirinya meninggal. Menurut Meutya, pernah ada priya berpakaian compang-camping yang menungguinya di depan pagar rumahnya selama 3 hari. Bobby mengaku sebagai Letkol Purnawirawan dan menjadi anggota detasemen mirunggan di kepulisian Républik Indonésia.[8]

Rujukan[besut | besut sumber]

Pranala njaba[besut | besut sumber]

Cithakan:Penyiar MetroTV