Pitulasan

Saka Wikipédia Jawa, bauwarna mardika basa Jawa
Menyang navigasi Menyang panggolèkan
Lomba penek jambe pitulasan (catatan: sing dipenek dudu jambe, nanging kambil)

Pitulasan utawa agustusan yaiku reroncening adicara pesta rakyat kanggo mengeti Dina Kamardikan Indonesia kang ciblok ring tanggal 17 Agustus. Kegiatan itu biasanya meliputi upacara bendera, rangkaian perlombaan yang diadakan di lingkungan setempat, menghias rumah, dan ditutup dengan malam kesenian. Dana penyelenggaraan kegiatan-kegiatan ini berasal dari iuran warga yang dikoordinir oleh pemerintah RT setempat.[1]

Etimologi[besut | besut sumber]

Istilah tujuhbelasan berasal dari tanggal Hari Kemerdekaan Indonesia, yakni 17 (tujuh belas) Agustus.[2]

Kegiatan[besut | besut sumber]

Upacara Bendera[besut | besut sumber]

Setiap 17 Agustus diadakan upacara bendera di Istana Merdeka, Jakarta.[3] Kegiatan ini biasanya diliput secara langsung oleh televisi.[4] Pemerintah-pemerintah daerah juga menyelenggarakan upacara bendera (biasanya) di alun-alun daerahnya.[4]

Menghias lingkungan[besut | besut sumber]

Pada hari-hari menjelang 17 Agustus warga suatu tempat mengadakan kegiatan menghias lingkungannya. Penghiasan ini meliputi bersih-bersih halaman, perbaikan pagar, dan mengecat ulang tembok yang sudah kusam.[2] Di jalan-jalan biasanya dipasangi umbul-umbul dan hiasan kertas bermotif merah putih.[5] Gapura di lingkungan itu pun dihias dengan motif merah putih dan ornamen-ornamen yang berkaitan dengan proklamasi.[6] Tiap-tiap rumah juga memasang bendera merah putih di halamannya.[5]

Perlombaan[besut | besut sumber]

Menurut sejarawan JJ Rizal, tradisi lomba tujuhbelasan muncul pada tahun 1950-an. Perlombaan-perlombaan ini diadakan sejak Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-5 oleh masyarakat. Kala itu masyarakat ingin memeriahkan perayaan HUT RI dengan cara yang menyenangkan.[7] Perlombaan tujuhbelasan diselenggarakan oleh seksi pemuda atau seksi wanita atas koordinasi ketua RT.[1] Sebagian lomba diadakan pada waktu sebelum tanggal 17 Agustus, sementara sebagian lomba lain diadakan pada tanggal 17 Agustus. Lomba-lomba tersebut diikuti oleh anak-anak maupun orang dewasa di lingkungan tersebut. Lomba-lomba yang diadakan meliputi olahraga, permainan, dan keterampilan, yang disesuaikan dengan keadaan. Badminton, maraton, voli, dan sepak bola adalah olahraga yang biasa dilombakan dalam tujuhbelasan. Memasak, merajut, dan menyusun bunga adalah keterampilan yang biasanya dilombakan dalam tujuhbelasan.[2] Lomba ini biasanya diikuti oleh perempuan atau ibu-ibu. Lomba permainan yang diselenggarakan biasanya balap makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, gebuk bantal, panjat pinang, engrang,[7] dan sepak bola sarung.[8]

Pawai[besut | besut sumber]

Di beberapa tempat tujuhbelasan juga diisi oleh kegiatan pawai. Pawai ini diikuti oleh orang-orang yang menggunakan kostum (biasanya pakaian adat atau kostum bertema perjuangan Indonesia). Selain itu, di dalamnya juga terdapat kendaraan-kendaraan (biasanya sepeda) yang dihias[8][9] dan arak-arakan.[10]

Malam kesenian[besut | besut sumber]

Malam kesenian biasanya diselenggarakan setelah 17 Agustus dan merupakan puncak rangkaian acara tujuhbelasan. Malam kesenian biasanya diselenggarakan di atas sebuah panggung di tempat terbuka (biasanya di halaman balai desa). Kegiatan ini biasanya dibuka dengan sambutan dari ketua RT atau para pejabat dari kecamatan. Acara penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba diadakan pada kegiatan ini. Selain itu, terdapat pentas seni yang dimainkan oleh anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Pentas seni itu biasanya berupa tari daerah, tari modern, pembacaan puisi, pentas band, pentas musik tradisional, dan pertunjukan drama.[4] Drama yang dipentaskan pada malam kesenian biasanya bertema perjuangan melawan Belanda, perjuangan saja, atau yang memiliki unsur sejarah.[4] Misalnya, Jaka Dolog[11], Malin Kundang[12], Trunajaya,[13] dan Untung Suropati.[14]

Penilaian ngenani pitulasan[besut | besut sumber]

Miturut panaliti Barbara Hatley, perlombaan-perlombaan sing dianakne nang pitulasan dudu kanggo menang-menangan utawa nggolek menange dhewe. Nanging kanggo nguatke gotong royong antarwarga sajroning nyuksesne Pengetan Dina Kamardikan Indonesia.[4]

Rujukan[besut | besut sumber]

  1. a b Hatley, Barbara. 1982. "Indonesian Ritual, Javanese Drama--Celebrating Tujuhbelasan" dalam jurnal Indonesia vol. 34 bln. Oktober. hlm. 57
  2. a b c Hatley, Barbara. 1982. "Indonesian Ritual, Javanese Drama--Celebrating Tujuhbelasan" dalam jurnal Indonesia vol. 34 bln. Oktober. hlm. 56
  3. Damarjati, Danu. "Tamu Istana di Hari Kemerdekaan: Berkebaya hingga Tanpa Alas Kaki". detiknews. Dibukak ing 2017-10-13.
  4. a b c d e Hatley, Barbara. 1982. "Indonesian Ritual, Javanese Drama--Celebrating Tujuhbelasan" dalam jurnal Indonesia vol. 34 bln. Oktober. hlm. 58
  5. a b ruber.id. "Tujuhbelasan Mulai Dekat, Warga di Tasikmalaya Hias Kampung Sambut Hari Kemerdekaan". ruber.id (ing basa Inggris). Dibukak ing 2017-10-13.
  6. Yunita, Niken Widya. "Sambut HUT RI, Gapura Kampung di Jakarta, Jabar & Banten Dihias". detiknews. Dibukak ing 2017-10-13.
  7. a b Suara.com. "Ini Sejarahnya Tradisi Lomba 17 Agustus". suara.com (ing basa Indonesia). Dibukak ing 2017-10-13.
  8. a b "Tak Cuma Upacara Bendera, Ini Perayaan 17 Agustus Super Unik dari Bebagai Daerah di Indonesia - TribunTravel.com". TribunTravel.com (ing basa Indonesia). Dibukak ing 2017-10-13.
  9. "Siswa SDN Cibubur 04 Semangat Ikut Pawai Kemerdekaan - Poskota News". Poskota News (ing basa Indonesia). 2017-08-16. Dibukak ing 2017-10-13.
  10. "Jelang HUT RI Ke 72, 10 RT di RW 09 Cawang Gelar Pawai Keliling Kampung - Wartakota". Wartakota (ing basa Indonesia). Dibukak ing 2017-10-13.
  11. Hatley, Barbara. 1982. "Indonesian Ritual, Javanese Drama--Celebrating Tujuhbelasan" dalam jurnal Indonesia vol. 34 bln. Oktober. hlm. 59
  12. Hatley, Barbara. 1982. "Indonesian Ritual, Javanese Drama--Celebrating Tujuhbelasan" dalam jurnal Indonesia vol. 34 bln. Oktober. hlm. 61
  13. Hatley, Barbara. 1982. "Indonesian Ritual, Javanese Drama--Celebrating Tujuhbelasan" dalam jurnal Indonesia vol. 34 bln. Oktober. hlm. 62
  14. Hatley, Barbara. 1982. "Indonesian Ritual, Javanese Drama--Celebrating Tujuhbelasan" dalam jurnal Indonesia vol. 34 bln. Oktober. hlm. 63