Parembugan Kategori:Basa Indonésia - Basa Jawa

Saka Wikipédia Jawa, bauwarna mardika basa Jawa
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Lamaran

Lamaran adalah tahapan pertama yang harus dilalui dalam suatu pernikahan yang umumnya dilakukan oleh kaum pria untuk menyampaikan niat dan kesungguhannya untuk menikah serta meminta restu dan persetujuan dari orang tua wanita yang akan dinikahi.

Disini saya membagi dalam 3 kategori lamaran:

1. Lamaran InformalDalam hal ini calon mempelai pria datang ke rumah orang tua calon mempelai wanita sendiri dan menyatakan keseriusan, kesiapan ( ekonomi ), niat dan tekad yang tulus untuk menikahi calon mempelai wanita dengan kesungguhan cinta dan agama. Disini Calon mempelai Pria kemudian membicarakan dan meminta konfirmasi waktu (jam, hari dan tanggal) kepada orang tua calon mempelai wanita untuk melaksanakan Lamaran Semi Formal selanjutnya.

2. Lamaran Semi Formal ( Tembungan ) Menggelar acara ini Calon mempelai Pria datang ( sesuai konfirmasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya ) dengan didampingi oleh kedua orang tua, kerabat dan saudara-saudara ( dalam hal ini, bisa hanya saudara / kakak laki laki/ orang yang dituakan dalam adat jika kedua orang tua sudah meninggal). Kemudian Orangtua dari Calon mempelai Pria menanyakan apakah putri tersebut ( Calon Mempelai Wanita) belum mempunyai/ tidak mempunyai suami untuk dijadikan istri dan menantunya kepada Orangtua Calon mempelai Wanita. Setelah mendapat jawaban dari Orang tua Calon mempelai wanita bahwa Putri tersebut belum/tidak mempunyai suami kemudian ditentukan waktu ( jam, hari dan tanggal ) Pernikahan. Biasanya Waktu pernikahan ( Hari Pernikahan ) dihitung dan ditentukan selanjutnya, supaya tidak terjadi salah paham antara kedua belah pihak. Adapula, penentuan Hari Pernikahan digelar lagi Acara Balasan Lamaran yaitu Orangtua mempelai Wanita datang bersilaturahmi ke rumah Orangtua Pria bersama kerabat dan saudara-saudaranya untuk memberitahukan jawaban dan tanggal pernikahan. Dalam menggelar acara - acara tersebut biasanya ada perjamuan makan ( kalo jaman dulu tidak ada makan besar , hanya makanan kecil sebagai camilan karena lamaran belum tentu diterima). Ada juga Lamaran semi Formal ini diadakan Tukar Cincin (Tunangan), yang berarti pengikatan hubungan antara kedua Calon mempelai sebelum melaksanakan Prosesi Pernikahan supaya tidak ada Pria lain yang datang melamar. Acara Lamaran dan Acara Balasan Lamaran biasanya membawa oleh-oleh berupa ; beras ketan / lemper / wajik / jenang sebagai simbol/lambang yang harapannya agar kedua Pihak lengket, lauk pauk, gula , teh, kopi. Ada juga sekarang yang bawa oleh-oleh roti dan juga buah-buahan. Dalam Acara lamaran ini biasanya tidak diikuti oleh orang banyak, hanya keluarga inti dan kerabat dekat saja.

3. Lamaran Formal ( Peningsetan ) Setelah terjadi kesepakatan Hari Pernikahan, digelar acara Lamaran Formal yang diadakan malam menjelang pernikahan ( Ijab qobul ) atau beberapa saat sebelum acara pernikahan ( Ijab Qobul ) dimulai. Dalam menggelar acara Lamaran ini biasanya disaksikan oleh orang tua, aparat desa setempat, kerabat, saudara-saudara dan tetangga dari kedua belah pihak. Prosesi Lamaran Formal ini dari Pihak Calon Mempelai Pria membawa barang bawaan yang biasa kita sebut hantaran atau seserahan sebagai tanda keseriusan untuk membina rumah tangga kepada Pihak Calon Mempelai Wanita. Hantaran atau seserahan atau Peningset (Jawa ) adalah sejumlah barang kebutuhan Mempelai Wanita ( atau apa yang diminta Mempelai Wanita ) yang menunjukan kemampuan Pria untuk membahagiakan Calon mempelai wanita dan bisa juga sebagai paket syarat pernikahan . Masing-masing barang hantaran merupakan simbol, dan ada makna / arti tersendiri menurut adat istiadat masing - masing daerah. Jumlah barang Hantaran tidak ditentukan tergantung kemampuan Pria. Kemasan barang-barang hantaran sangat beragam yang penting rapi, bagus dan menarik, bahkan ada pula yang unik. Dalam hantaran ini jika ada Pelangkah (Sesuatu atau barang yang diminta oleh kakak calon mempelai wanita/pria yang belum menikah ) harus dibawa serta, sebagai simbol / lambang menghormati kakak, mendahului kakak, dan kakak tersebut menyetujui.














Kata Siraman berasal dari kata dasar “siram” (bahasa Jawa) yang berarti mandi. Yang dimaksud dengan upacara adat siraman adalah memandikan calon pengantin yang mengandung simbol membersihkan diri agar menjadi suci dan murni. Bahan-bahan dan perlengkapan yang diperlukan untuk malaksanakan upacara siraman adalah: • Kembang setaman secukupnya. • Lima macam konyoh panca warna atau penggosok badan yang terbuat dari beras kencur yang diberi pewarna. • Dua butir kelapa hijau yang tua yang masih ada sabutnya. • Kendi atau klenting. • Tikar ukuran ½ meter persegi. • Mori putih ½ meter persegi. • Daun-daun : kluwih, koro, awar-awar, turi, dadap srep, alang-alang. • Dlingo bengle. • Lima macam bangun tulak atau kain putih yang ditepinnya diwarnai biru. • Satu macam yuyu sekandang. Maksudnya kain lurik tenun berwarna coklat ada garis-garis benang kuning. • Satu macam pulo watu (kain lurik berwarna putih lorek hitam), 1 helai letrek (kain kuning), 1 helai jinggo (kain merah). • Sampo dari londo merang. Larutan ini didapat dari merang yang dibakar didalam jembangan dari tanah liat kemudian saat merangnya habis terbakar segera apinya disiram air. Nah air inilah yang dinamakan air londo. • Asem, santan kanil, 2 meter persegi mori, 1 helai kain nogosari, 1 helai kain grompol, 1 helai kain semen, 1 helai kain sidomukti atau kain sidoasih. • Sabun dan handuk. Saat akan melaksanakan siraman didahului dengan petuah-petuah dan nasihat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam: • Tumpeng robyong. • Tumpeng gundul. • Nasi asrep-asrepan. • Jajan pasar, pisang raja 1 sisir, pisang pulut 1 sisir, 7 macam jenang. • Empluk kecil (wadah dari tanah liat) yang diisi bumbu dapur dan sedikit beras. • 1 butir telor ayam mentah. • Juplak diisi minyak kelapa. • 1 butir kelapa hijau tanpa sabut. • Gula jawa 1 tangkep. • 1 ekor ayam jantan. Untuk menjaga kesehatan calon pengantin supaya tidak kedinginan maka ditetapkan hanya tujuh orang yang boleh memandikan. Dalam bahasa Jawa tujuh sama dengan pitu ( Jawa ) yang berarti pitulung (Jawa). Hal ini mengandung makna pertolongan. Upacara siraman ini diakhiri oleh juru rias (pemaes) dengan memecah kendi dari tanah liat.









midodareni


Menurut pernikahan adat jawa, Midodareni adalah sebuah prosesi menjelang acara panggih dan akad nikah. Midodareni sendiri berasal dari kata widodari yang dalam bahasa Jawa bermakna bidadari. Mitos yang berkembang di kalangan masyarakat jawa sendiri kenapa diadakannya acara prosesi Midodareni adalah karena konon pada malam itu para bidadari dari khayangan turun ke bumi dan bertandang ke rumah calon mempelai wanita guna ikut mempercantik dan menyempurnakan calon pengantin wanita. Urut-urutan dari acara malam midodareni sendiri adalah sebagai beri








Srah-Srahan • Pengertian

         Pada hakikatnya ( zaman dulu ) srah-srahan adalah upacara penyerahan barang – barang dari pihak calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita dan orangtuanya sebagai hadiah atau bebana menjelang upacara panggih ( Bratasiswara, 2000 : 737 ), srah-srahan merupakan acara yang tidak baku, tetapi hanya sebagai upaya nepa palupi atau melestarikan adat budaya yang telah berjalan dan dipandang baik. Srah-srahan hanya merupakan acara tambahan dalam acara mantu, srah-srahan ini sering disatukan dengan penyerahan jenis-jenis barang yang ada hubunganya dengan perkawinan seperti paningset dan tukon.
         Akan tetapi pada saat ini srah-srahan justru menjadi istilah yang lebih popular dalam rangkaian acara pernikahan dalam acara srah-srahan ini, ada dua hal yang diserahkan, yakni :

• Calon Pengantin Pria • Segala hantaran yang berisi sanggan, suruh ayu, barang-barang dari emas ( seperti kalung, cincin, gelang ) busana, sarana berhias ( alat2 Make up ), jadah, wajik, buah-buahan, pamesing, pelangkah ( jika ada ) dan juga uang, penyerahan seluruh umbarampe ( sarana ) tersebut hanya dilakukan sekali seperti halnya penggabungan antara tukon, paningset dan srah-srahan itu sendiri, yang akhirnya disebut srah-srahan, penggabungan ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain : ketidak tauan, ketidak perluan, kepraktisan dan efisiensi waktu dan acara. • Pelaksanaan srah-srahan 1. Cara tradisional

       Pada awalnya, berdasarkan tradisi acara srah-srahan dilaksanakan sekitar dua atau tiga hari menjelang upacara panggih, acara di laksanakan di kediaman calon pengantin putri, dan barang yang dibawa biasanya tidak ditentukan oleh adat, pada zaman dahulu barang-barang srah-srahan dibuat dua kali lipat dari barang – barang paningset, dan umumnya berkaitan dengan kebutuhan hidup keluarga.
      Batasiswara ( 2000 : 738 ) dalam bukunya yang berjudul Bauwarna Adat Tata Cara jawa menyebutkan :

• Kebo sejodho : yakni sepasang kerbau jantan dan betina yang tanduknya diselut ( dicathok ) warna putrid dengan perak dan kapur. • Banyak sejodho : yakni sepasang angsa jantan dan betina digendong dengan kain cindai ( cindhe ) atau sindur. • Pitik sejodho : yakni ayam jantan dan betina diemban dengan kain cindai atau sindur. • Jodhang berisi tuwuhan dan biji : wit Lombok sarakit, wit terong sarakit, wit parijatha sarakit, dan wit tomat sarakit. • Sepasang tebu herjuna, yakni tebu berwarna hitam ( wulung ) beserta daunya. • Jodhang berisi bahan mentah : beras satu karung ( bagor ) berisi 100 taker dan kelapa sebanyak 25 ( selawe ) butir. • Jodhang berisi perabot rumah tangga : dandang, kendhil, kenceng, ceret, siwur, tembaga, wajan, diyan, ilir, pisau, parut, kukusan, dsb. • Jodhang berisi makanan olahan seperti nasi dan lauk pauk lengkap, olahan lengkap, tanpa gula dan teh. • Jodhang berisi anggi-anggi, jamu racikan, galian, empon-empon, ditutup dengan cindai ( anggi-anggi adalah kentong yang di jahit mati ). • Jodhang berisi perabot membatik : gawangan, canthing, wajan, bandhul, mori dan dakon. • Uang Rp 25,- ( selawe ).

2.    Cara Modern
     Srah-srahan dilaksanakan pada malam midodareni atau beberapa saat menjelang ijab qobul, ( dalam agama lain biasanya srah-srahan dilakukan pada malam midodareni sebelum acara doa / ibadat sabda ) srah-srahan ini tidak membedakan antara tukon, paningset atau srah-srahan, bahkan ada yang menyebut upakarti srah-srahan.

Ubarampe yang diserahkan adalah : 1. Sanggan : pisang satu tangkep, pucuknya di cathok dengan kertas emas, diserati suruh ayu dan lawe putih. 2. Pakaian lengkap ( busana sapengadeg ), sarana untuk berhias ( pangadining sarira ), dan perhiasan ( gelang, kalung cincin ). 3. Sejumlah uang sumbangan untuk penyelenggaraan perhelatan. 4. Jadah, wajik 5. Buah-buahan. 6. Ada juga yang menambah beberapa ruas tebu herjuna ( tebu hitam tanpa daun ), ayam jantan, gula setangkep, beras dan kelapa.

       Segala ubarampe tersebut dihias dan di bentuk sedemikian rupa sehingga tanpak indah, bahkan dibentuk seperti merak, angsa, ular, melingkar dsb,

a. Upacara Ijab Sebagai prosesi pertama pada puncak acara ini adalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri.








b. Upacara Panggih Setelah upacara ijab selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi: • Liron kembar mayang atau saling menukar kembang mayang dengan makna dan tujuan bersatunya cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan. • Gantal atau lempar sirih dengan harapan semoga semua godaan hilang terkena lemparan itu. • Ngidak endhog atau pengantin pria menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya. • Minum air degan (air buah kelapa) yang menjadi lambang air suci, air hidup, air mani dan dilanjutkan dengan di-kepyok bunga warna-warni dengan harapan keluarga mereka dapat berkembang segala-segalanya dan bahagia lahir batin. • Masuk ke pasangan bermakna pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban. • Sindur yaitu menyampirkan kain (sindur) ke pundak pengantin dan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup. Setelah upacara panggih, kedua mempelai diantar duduk di sasana riengga. Setelah itu, acara pun dilanjutkan. • Timbangan atau kedua pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin wanita sebagai simbol sang ayah mengukur keseimbangan masing-masing pengantin. • Kacar-kucur dijalankan dengan cara pengantin pria mengucurkan penghasilan kepada pengantin perempuan berupa uang receh beserta kelengkapannya. Simbol bahwa kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga. • Dulangan atau kedua pengantin saling menyuapi. Mengandung kiasan laku perpaduan kasih pasangan laki-laki dan perempuan (simbol seksual). Ada juga yang memaknai lain, yaitu tutur adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng. –> upacara ini dilakukan sebelum resepsi di sore hari, tamu-tamu yang datang duluan akan berkesempatan menyaksikan acara ini :)




Balangan suruh Upacara balangan suruh dilakukan oleh kedua pengantin secara bergantian. Gantal yang dibawa untuk dilemparkan ke pengantin putra oleh pengantin putri disebut gondhang kasih, sedang gantal yang dipegang pengantin laki-laki disebut gondhang tutur. Makna dari balangan suruh adalah berupa harapan semoga segala goda akan hilang dan menjauh akibat dari dilemparkannya gantal tersebut. Gantal dibuat dari daun sirih yang ditekuk membentuk bulatan (istilah Jawa: dilinting) yang kemudian diikat dengan benang putih/lawe. Daun sirih merupakan perlambang bahwa kedua penganten diharapkan bersatu dalam cipta, karsa, dan karya.






. Ngindak tigan, Wiji Dadi” (injak telor jadi bibit). Pengantin pria berdiri dengan kaki diposisikan menginjak telor yang ditaruh di atas baki (nampan), sementara pengantin wanita jongkok di depannya. Upacara ini memiliki banyak makna, diantaranya: sebagai lambang peralihan masa lajang kedua pengantin yang akan memasuki kehidupan baru yang berat dan penuh tantangan dan juga sebagai simbol pemecahan selaput dara pengantin puteri oleh pengantin pria.









Pupuk Ibu mempelai putri mengusap ubun-ubun mempelai putra sebanyak tiga kali dengan air kembang setaman. Ini sebagai lambang penerimaan secara ikhlas terhadap menantunya sebagai suami dari putrinya.











Sinduran/ Binayang

Prosesi ini menyampirkan kain sindur yang berwarna merah ke pundak kedua mempelai (memperlai putra di sebelah kanan) oleh bapak dan ibu mempelai putri. Saat berjalan perlaham-lahan menuju pelaminan dengan iringan gending, Paling depan di awali bapak mempelai putri mengiringi dari belakang dengan memegangi kedua ujung sindur. Prosesi ini menggambarkan betapa kedua mempelai telah diterima keluarga besar secara utuh, penuh kasih sayang tanpa ada perbedaan anatara anak kandung dan menantu.










Bobot Timbang Kedua mempelai duduk dipangkuan bapak mempelai putri. Mempelai putri berada dipaha sebelah kiri, mempelai putra dipaha sebelah kanan. Upacara ini disertai dialog antara ibu dan bapak mempelai putri. "Abot endi bapakne?" ("Berat yang mana, Pak) kata sang ibu. "Podo, podo abote," ("Sama beratnya") sahut sang bapak. Makna dari upacara ini adalah kasih sayang orangtua terhadap anak dan menantu sama besar dan beratnya.











Kacar-Kucur Upacara ini merupakan lambang bahwa suami yang bertugas mencari nafkah untuk keluarganya, sebagai simbolik tengah menyerahkan hasil jerih payahnya pada istrinya. Pengantin pria berdiri di depan pengantin puteri dalam posisi agak menunduk lalu lalu mengucurkan bungkusan Kacar-Kucur itu ke dalam bentangan sapu tangan Tulak di atas pangkuan pengantin puteri. Kemudian setelah itu dibungkus oleh sang istri dan diserahkan kepada ibundanya ditemani oleh sang suami. Bersamaan saat penyerahan itu, pihak MC yang bertindak mewakili pengantin puteri mengucapkan “Bu..kami titipkan penghasilan kami dari sang suami, kami mohon petunjuk bagaimana langkah yang harus kami lakukan selanjutnya”. Dalam acara ini panitia harus mempersiapkan :

Musik : Gending Rahayu
Alat Upacara : sapu tangan, kloso bongko, uang recrh logam, beras kuning, kedelai putih/hitam, kacang hijau, kacang tolo, kluwak, kemiri dan bunga talon.

10. Dahar Klimah Acara ini memiliki kandungan makna bahwa kedua mempelai agar bias hidup rukun, saling mengisi, dan tolong-menolong, dan dapat menyatukan keduanya dalam suka maupun duka. Pengantin pria membuat kepalan dari nasi punar/banding lalu disuapkan kepada istrinya, begitu juga sebaliknya istrinya menyuapi suaminya, keduanya melakukannya sebanyak tiga kali. Dalam acara ini panitia harus mempersiapkan :

Musik : Gending Mugi Rahayu
Alat Upacara : piring yang agak lonjong yang berisi nasi kuning, irisan telor dadar, gorengan kedelai hitam dan tempa kering. Dengan dihiasi seledri, tomat dan bunga lombok merah, kenudian makanan ini diatur sedemikian ruoa agar terliht menarik, baserta dua buah sendok makan dan sebuah nampan untuk menyajikan piring tersebut



DAHAR KLIMAH Dahar klimah, pada upacara dahar klimah makanan yang perlu disiapkan adalah : nasi kuningditaburi bawang merah yang telah digoreng dan opor ayam. Pada upacara tanpa kaya yang perludisediakan ialah : kantongan yang berisi uang logam, beras, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, jagung dan lain-lain.








Sungkeman Kedua pengantin bersujud memohon restu dari masing-masing orangtua. Pertama-tama ayah dan ibu pengantin wanita, kemudian baru ayah dan ibu pengantin pria Ini sebagai tanda bakti anak kepada orang tua yang telah membesarkannya hingga dewasa, permohonan anak kepada orang tua supaya diampuni kesalahannya dan memohon doa restu supaya dalam membina bahtera rumah tangga dapat bahagia dan sejahtera. NB : apabila pengantin pria menggunakan pakaian adat jawa (beskap), sebelum sungkeman Pengantin pria melepaskan keris yang merupakan lambang kekuatan yang dipakainya ketika sungkeman, hal ini sebagai penghormatan kepada orang tua., serta sebesar apapun pangkat atau kekuatan yang dimiliki oleh anak, dihadapan orangtuanya tidak boleh ditampakkan. Acara temu manten, atau panggih selesai dan dilanjutkan dengan resepsi





Mertui / mapag besan / jemput besan Orangtua mempelai wanita menjemput orangtua mempelai pria, (di depan rumah, pelataran atau di tempat yang disediakan ). Ini melambangkan Melambangkan kerukunan antar keluarga kedua mempelai, Mereka kemudian bersama-sama berjalan (bapak menggandeng bapak besan , dan ibu menggandeng ibu besan) menuju tempat yang telah disediakan (pelaminan) untuk menerima sungkem dari anak-anaknya







KENDUREN Kenduren/ selametan adalah tradisi yang sudaah turun temurun dari jaman dahulu, yaitu doa bersama yang di hadiri para tetangga dan di pimpin oleh pemuka adat atau yang di tuakan di setiap lingkungan, dan yang di sajikan berupa Tumpeng, lengkap dengan lauk pauknya. Tumpeng dan lauknya nantinya di bagi bagikan kepada yang hadir yang di sebut Carikan ada juga yang menyebut dengan Berkat.

Carikan/ berkat Tujuan dari kenduren itu sendiri adalah meminta selamat buat yang di doakan, dan keluarganya,kenduren itu sendiri bermacam macam jenisnya, antara lain :

  • kenduren wetonan ( wedalan ) Di namakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir ( weton, jawa ) seseorang. Dan di lakukan oleh hampir setiap warga, biasanya 1 keluarga 1 weton yang di rayain , yaitu yang paling tua atau di tuakan dalam keluarga tersebut. Kenduren ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari ( 1 bulan ). Biasanya menu sajiannya hanya berupa tumpeng dan lauk seperti sayur, lalapan, tempe goreng, thepleng, dan srundeng. tidak ada ingkung nya ( ayam panggang ).
  • Kenduren Sabanan ( Munggahan ) Kenduren ini menurut cerita tujuannya untuk menaik kan para leluhur. Di lakukan pada bulan Sya’ban, dan hampir oleh seluruh masyarakat di Watulawang dan sekitarnya, khususnya yang adatnya masih sama, seperti desa peniron, kajoran, dan sekitarnya. Siang hari sebelum di laksanakan upacara ini, biasanya di lakukan ritual nyekar, atau tilik bahasa watulawangnya, yaitu mendatangi makan leluhur, untuk mendoakan arwahnya, biasanya yang di bawa adalah kembang, menyan dan empos ( terbuat dari mancung ). Tradisi bakar kemenyan memang masih di percaya oleh masyarakat watulawang, sebelum mulai kenduren ini pun, terlebih dahulu di di jampi jampi in dan di bakar kemenyan di depan pintu. Menu sajian dalam kenduren sabanan ini sedikit berbeda dengan kenduren Wedalan, yaitu disini wajib memakai ayam pangang ( ingkung ).
  • Kenduren Likuran Kenduren ini di laksanakan pada tanggal 21 bulan pasa ( ramadan ), yang di maksudkan untuk memperingati Nuzulul Qur’an. dalam kenduren ini biasanya di lakukan dalam lingkup 1 RT, dan bertempat di ketua adat, atau sesepuh di setiap RT. dalam kenduren ini, warga yang datang membawa makanan dari rumah masing2, tidak ada tumpeng, menu sajiannya nasi putih, lodeh ( biasanya lodeh klewek) atau bihun, rempeyek kacang, daging, dan lalapan.