Perang Dipanegara: Béda antara owahan

Menyang navigasi Menyang panggolèkan
12 bèt wis ditambahake ,  1 taun kepungkur
c
éjaan, replaced: serdadu → saradhadhu (4) using AWB
c (éjaan, replaced: serdadu → saradhadhu (4) using AWB)
|}}
 
'''Perang Dipanagara''' ([[Basa Inggris]]:''The Java War'', [[Basa Walanda]]: ''De Java Oorlog''), iku perang gedhé lan suwé, ya iku sajeroning limang taun (1825-1830) kang kadadéan ing [[Jawa]], [[Hindia Walanda]] (saiki [[Indonésia]]), antara wadyabala panjajah Walanda ing sangisoré pimpinan [[Jendral De Kock]]<ref>[http://members.tripod.com/l32central/prakyat.htm Perlawanan Rakyat Indonésia], diakses 9 April 2008</ref> nglawan kang ndunungi pribumi kang dibawahi pangeran Yogyakarta kang asmané [[Pangeran Diponegoro]]. Sajeroning perang iki wis akèh banget kang dadi kurban, wujud jiwa lan bandha. Dhokumèn-dhokumèn Walanda kang dikutip para ahli sajarah, nyebutaké yèn watara 200.000 jiwa rakyat kang dadi kurban. Sawetara iku ing pihak serdadusaradhadhu Walanda, kurban tewas cacahé 8.000.
 
Perang Diponegoro minangka salah siji pertempuran gedhé dhéwé kang naté dialami déning Walanda sajeroning njajah Nusantara. Peperangan iki nglibataké kabèh tlatah Jawa, mula banjur karan Perang Jawa.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan [[hujan|penghujan]]; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Walanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit [[malaria]], [[disentri]], dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak" melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Walanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan [[provokator]] mereka bergerak di désa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Walanda.
 
Pada puncak peperangan, Walanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadusaradhadhu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wewengkon yang tidak terlalu luas seperti [[Jawa Tengah]] dan sebagian [[Jawa timur]] dijaga oleh puluhan ribu serdadusaradhadhu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (''open warfare''), maupun metoda perang gerilya (''geurilia warfare'') yang dilaksanakan melalui taktik ''hit and run'' dan penghadangan. ini bukan sebuah ''tribal war'' atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (''psy-war'') melalui [[insinuasi]] dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Walanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (''spionase'') dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
 
Pada tahun [[1827]], Walanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun [[1829]], Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran [[Mangkubumi]] dan panglima utamanya [[Sentot Alibasya]] menyerah kepada Walanda. Akhirnya pada tanggal [[28 Maret]] [[1830]], Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal [[8 Januari]] [[1855]].
 
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pamaréntah Hindia sebanyak 8.000 serdadusaradhadhu berkebangsaan Éropah, 7.000 [[pribumi]], dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.
 
== Perang Diponegoro dan Perang Padri ==
352.737

besutan

Menu navigasi