Yonkav 2/Turangga Ceta

Saka Wikipédia, Bauwarna Mardika abasa Jawa / Saking Wikipédia, Bauwarna Mardika abasa Jawi
Langsung menyang: pandhu arah, pados

2.1Sejarah Kavaleri[sunting | sunting sumber]

Dalam setiap perjuangan para panglima perang selalu mengusahakan keunggulan daya gerak untuk dapat memenangkan setiap pertempuran yang mereka hadapi. Orang-orang Yunani adalah yang mula pertama menyempurnakan tekhnik pertempuran dengan jalan menyusun kerja sama yang baik antara kesatuan-kesatuan yang memiliki daya gerak. Orang persia yang berperang melawan orang-orang Yunani ini mengusahakan keunggulan daya gerak dengan menggunakan kuda tetapi sayang sekali mereka kurang memiliki kerja sama dan disiplin yang baik seperti orang Yunani sehingga daya gerak yang mereka miliki tidak menghasilkan sesuatu yang maksimal. Iskandar Agung seorang panglima dari Macedonia menggunakan pasukan Kavaleri yang besar bagi kesatuannya sampai mencapai seperenam dari seluruh kekuatan yang ada. Dari kesatuan Kavalerinya yang besar itu, Iskandar Agung menggolongkan menjadi tiga bagian yaitu Kavaleri ringan, Kavaleri berat, dan infanteri di atas kuda. Selain itu Iskandar Agung telah pula berhasil menyempurnakan kerja sama antara kesatuan Infanteri dam Kavalerinya. Demikian juga halnya dengan panglima perang dari Asia yaitu Jengis Khan juga mengandalkan pasukan kavaleri berkuda untuk menaklukkan Eropa dan Afrika. Pada jaman itu satuan-satuan kavaleri dapat mempertahankan keunggulan yaitu dengan daya gerak yang tinggi serta kekebalan yang diperoleh anggotannya dengan cara memakai baju timah. Akan tetapi lambat laun dengan majunya tekhnik persenjataan dan diketemukansenapan-senapan mesin,kavaleri pada waktu itu berkurang kemampuannya sebab kekebalan yang dimilikinya sudah kurang berarti lagi. Sudah tentu dengan hilangnya kekebalan itu daya gerak yang dipunyai tidak dapat diharapkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Penemuan-penemuan baru terhadap kekebalan senapan mesin belumlah muncul. Hal ini agak menyempitkan bidang gerak bagi kesatuan kavaleri.Mulai saat itu satuan kavaleri hanya digunakan untuk tugas-tugas pengintaian dan pengamanan. Kolonel B. Estiense dari Perancis berhasil menemukan suatu pendapat untuk mengatasi kemacetan pertempuran-pertempuran yang bersifat statis dengan jalan membuat kendaraan berlapis baja dan diberi persenjataan dan mampu masuk ke dalam medan. Di Inggris Winston Churchil yang pada waktu itu menjabat menteri Angkatan Laut mempelopori pembuatan kendaraan tempur tersebut, untuk merahasiakan sewaktu diangkut ke daratan Eropa.Benda yang sebenarnya adalah kendaraan tempur itu disebut “tank” agar disangka tangki air yang memang biasa disebut dengan sebutan itu. Mulai saat itulah berkembang kendaraan tempur yang sampai sekarang kita kenal dengan sebutan Tank. Kesempatan pertama untuk menunjukkan kemampuannya didapat oleh tank-tank kavaleri yang pada waktu itu hanya memiliki kecepatan 3,5 mil per jam. Dalam pertempuran di Somme tanggal 15 September 1916, 49 buah tank digunakan dalam pertempuran tersebut, 9 buah sampai di sasaran 5 menit sebelum kesatuan-kesatuan infanteri mencampainya, sedangkan tank-tank lainnya menderita kerusakan mesin sebelum terlibat dalam pertempuran. Dari penggunaan tank-tank dalam pertempuran ini hasil yang dicapai belumlah ada hanya kemunculan secara tiba-tiba di medan pertempuran berpengruh besar terhadap moril lawan menjadi menurun. Setahun setelah itu, tank mendapat kesempatan lagi untuk muncul dalam pertempuran di Cambrai tanggal 20 Nopember 1917. Pihak Perancis Cs menggunakan 381 buah tank dan berhasil menembus pertahanan Jerman yang telah 4 tahun dapat dipertahankannya, pada tanggal 12 September 1918 dapat dipatahkan di dalam pertempuran yang hanya 4 hari lamanya. Berlainan hanya dengan pertempuran di Pleissy-Chezille yang ternyata pada tanggal 31 Mei 1918, dalam pertempuran ini tank-tank membawa Infanteri dari jarak dekat. Setelah berakhirnya perang Dunia 1 kemajuan satuan-satuan tank atau yang kemudian dikenal sebagai kesatuan Kavaleri Mekanis di samping masih tetap adanya satuan-satuan kavaleri berkuda tidaklah pesat hal ini disebabkan oleh banyak hal serta berlainan pandangan doktrin satu Negara dengan Negara lain. Kemampuan dan keunggulan Kavaleri Mekanis sangat nampak serta menonjol pada permulaan pecahnya perang dunia 2 di masa Jerman Nazi dengan hebat melaksanakan Blitzkrieg, menggunakan kesatuan-kesatuan Kavaleri berlapis baja sebagai inti menjebol pertahanna lawan yang sudah lama dipersiapkan dengan cepat tanpa terlalu banyak memakan korban dan jauh lebih berhasil daripada apabila penerobosan itu dikerjakan oleh satuan-satuan Infanteri. Kavaleri Jerman yang telah modern pada masa itu baik dalam bentuk tehnik maupun taktiknya jauh lebih unggul dari Kavaleri lawannya. Dalam serbuannya terhadap Rusia misalnya. Jerman yang hanya menggunakan 2434 tank dapat menghancurkan 17.000 buah tank Rusia dari 20.000 buah tank yang dihadapi dengan hanya menderita korban 550 buah tanknya hancur. Selama perang dunia II kemajuan Kavaleri di semua negara berjalan dengan pesatnya baik dalam bidang tehnik, taktik maupun doktrinnya. Di samping itu hampir semua negara. Kavaleri Mekanis berkembang menggantikan satuan-satuan Kavaleri berkuda walaupun bukan berarti bahwa yang disebut terakhir dihapuskan sama sekali. Pada akhir perang dunia II kemajuan Kavaleri telah seperti apa yang terlihat sekarang, apa yang ada sekarang ini sudah beberapa langkah lebih maju dari masa itu. Bahkan sejak kerajaan-kerajaan jaman dahulu di Indonesia telah dikenal penggunaan daya gerak oleh bala tentaranya. Hal ini dapat dibuktikan dengan sejarah perang melawan penjajah Belanda misalnya Sultan Agung dari Mataram, Perang Diponegoro, perang di daerah Padang Sumatera Barat. Pada saat itu terdapat kesatuan-kesatuan berkuda untuk menghela beban Artileri. Sedangkan Tentara Belanda bertugas pokok menjamin kewibawaan pemerintahnya terhadap rakyat Indonesia dan digunakan untuk menindas pemberontakan-pemberontakan kemerdekaan. Sedangkan untuk menghadapi suatu serangan dari luar kurang menjadi perhatian karena hal itu akan memakan biaya besar. Di negara Belanda sendiri usaha ke arah pembentukan kesatuan Kavaleri Mekanis tidak ada karena politik pertahanannya bersandarkan pada politik netral. Hal itu adalah akibat dari pengalamannya selama Perang Dunia I, lagi pula pemimpin militernya bersifat kolot dan kurang memperhatikan kemajuan-kemajuan, sehingga di negeri Belanda sendiri tidak ada kesatuan tank sampai saat negeri Belanda diserbu tentara Jerman Barat. Sebelum tentara Jepang menyerbu Indonesia dalam Perang Dunia II, tentara Hindia Belanda telah mempunyai kesatuan kendaraan tempur meskipun jumlahnya sangat kecil. Kesatuan Infanteri bermotor menggunakan kendaraan panser mengangkut personil untuk pengamanan kota-kota besar, sedangkan kendaraan-kendaraan panser digunakan dalam hubungan dengan kesatuan Infanteri dan penempatannya tersebar di berbagai tempat di seluruh Indonesia, misalnya : – Di Karang Endah (Palembang) : Kekuatan 3 panser dengan 2 seksi Infanteri – Di Kendari (Sul. Tenggara) : Kekuatan 4 panser 20 regu Infanteri – Di Tarakan (Kal. Timur) : Kekuatan 7 panser dengan 1 Yon Infanteri – Di Balikpapan (Kaltim) : Kekuatan 3 panser dengan 1 Yon Infanteri – Di Samarinda (Kaltim) : Kekuatan 2 panser dengan 1 Kompi Infanteri Dalam periode tahun 1937 – 1938 tentara Belanda telah mengadakan percobaan penggunaan tank di medan Indonesia, jenis tank yang dicoba adalah tank ringan bersenjata hanya senapan mesin buatan Inggris yaitu Vickers Garden Loyd tahun 1934 dengan berat 4,3 ton. Setelah tidak dapat mendatangkan tarik dari Inggris maka dicoba membeli dari AS, yaitu tank ringan Marmon Herriengton dengan berat 7 ton bersenjatakan 2 senapan mesin, tetapi tank jenis ini datangnya ke Indonesia sangat terlambat yaitu dalam permulaan tahun 1942. Jadi sebelum siap, maka tentara Jepang telah mendarat di Pulau Jawa dalam bulan Maret 1942. Satu-satunya serangan kesatuan tank dalam Perang Dunia II di Indonesia ialah serangan kesatuan mobil tersebut di Subang yang gagal. Pada 1 Maret 1942 dari Bandung Kesatuan Mobil tersebut dengan diperkuat 1 baterai Artileri Gunung harus merebut kembali lapangan terbang Kalijati dengan melewati Subang. Kota Subang sendiri telah diduduki oleh 2 Yon Inf Jepang dengan diperkuat kesatuan Artileri lapangan. Tentara Jepang dalam seruannya selama penduduk di Indonesia dari tahun 1942 sampai Agustus 1945 menggunakan tanknya sendiri yang beratnya dari 3 sampai 14 ton, di antaranya adalah tank Kego dengan berat 10 ton, Chike dengan berat 12 ton dan Chih dengan berat 14 ton. Tetapi kesatuan-kesatuan tank Jepang selama Perang Dunia II tidak pernah mengalami pertempuran di Indonesia. Angkatan Darat sudah mulai timbul selama perang Kemerdekaan kemudian pada pertempuran di Surabaya sekitar Nopember 1945, beberapa pemuda Indonesia telah menggunakan beberapa panser hasil rampasan dari Jepang, Belanda dan Inggris, untuk melawan tentara sekutu. Walaupun kalah dalam pengalaman dan perlengkapan, namun para pemuda tersebut dengan semangat yang tinggi sempat memberikan perlawanan yang gagah berani terhadap tentara sekutu. Di antara para pemuda tersebut terdapatlah pemuda Subiantoro yang pernah menjabat sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri tahun 1964 – 1966 dan sekarang telah purnawirawan dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI. Bersamaan dengan berhasilnya bangsa Indonesia memaksa Belanda meninggalkan negara kita yang kita cintai ini, baik melalui meja perundingan maupun perlawanan fisik, Angkatan Darat menerima penyerahan kendaraan tempur ex Belanda. Penyerahan kendaraan tempur tersebut dilaksanakan pada akhir tahun 1949 di Palembang dan awal tahun 1950 di Pulau Jawa dan Medan. Pada tahun 1949 salah satu pasal dalam keputusan KMB di Den Haag pada tanggal 24 Agustus 1949 ditetapkan bahwa Pasukan-pasukan Belanda yang masih berada di RIS, akan ditarik kembali. Sedangkan anggota-anggotanya KNIL, KL yang berkebangsaan Indonesia dan setia pada RIS akan dilebur ke dalam APRIS dan material tentara Kerajaan Belanda akan diserah terimakan kepada TNI AD seperti Ran Pur Panser, Tank, dll. Akibat dari keputusan tersebut material Eskadron tentara Kerajaan Belanda yang berada di Jawa Tengah diserah terimakan kepada Panglima Divisi-III Territorium-IV Kolonel Gatot Subroto. Pada sekitar bulan Februari 1950 LTS A. HASAN S sebagai Kepala Bagian Kendaraan (Over Dracbt) pada staf Divisi Diponegoro mednapat tugas dari Panglima Divisi-III Kolonel Gatot Subroto untuk atas nama Panglima menerima material satuan Eskadron Tentara Kerajaan Belanda yang berupa Tank dan Panser yang berjumlah ± 5 Eskadron (300 – 450 buah Kendaraan Tempur). Kemudian menyusunnya menjadi Pasukan Berlapis Baja di Magelang. Sebagai realisasinya dalam rangka pembentukan Pasukan Berlapis Baja (PBB) Panglima Divisi III memerintahkan kepada : - Komandan Brigade 5/ Panembahan Senopati, - Komandan Brigade 7/ Sunan Muria, - Komandan Brigade 9/ Diponegara, dan - Komandan Brigade 10/ Mataram Untuk memberi kesempatan kepada anggotanya yang berminat menjadi anggota PBB. Setelah kira-kira terkumpul ± 20 personil, maka tepat pada tanggal 4 April 1950 Panglima Divisi-III memutuskan berdirinya Pasukan Berlapis Baja (PBB) yang dipimpin oleh LTS A. HASAN S sebagai Komandan nya yang pertama. Tanggal 4 April 1950 ditetapkan sebagai Hari Lahirnya YONKAV-2 INTAI/TG DAM VII/DIP. Yang selalu diperingati oleh setiap warga YON KAV-2 setiap tahunnya, dan merupakan BATALYON KAVALERI tertua di INDONESIA. Falsafah Kavaleri : - Organisasi yang kenyal - Daya tembak yang besar - Daya gerak yang tinggi - Daya kejut yang ampuh - Kerja sama yang erat