Reog Kendang Tulungagung

Saka Wikipédia, Bauwarna Mardika abasa Jawa / Saking Wikipédia, Bauwarna Mardika abasa Jawi
Langsung menyang: pandhu arah, pados

Reog Kendang Tulungagung yaiku kesenian tari rakyat kang ngambarake arak-arakan prajurit Kedhirilaya ing kagiatan ngiringi Ratu Kilisuci tumuju ing gunung kelud,kanggo nemoni Jathasura.Jroning tarian reog kendang Tulungaung kang dipunggawani kanthi cacah panari 6 wong lan ngambarake para prajurit.

















 Reyog Kendhang Asal Tulungagung
 





Gambar 3. Penari Reyog Kendhang Nilai-nilai yang terdapat di kesenian Reyog Kendhang asal daerah Tulungagung ini, mencerminkan sifat kearifan lokal kesenian tradisional. Kesenian sendiri, bersangkutan mengenai proses pembelajaran dari lingkungan untuk manusia. Dari sebuah pengamatan sosial, pola prilaku kehidupan, maupun wacana yang sedang hangat dibicarakan, bisa diproses melalui kesenian, sehingga dari kesenian pulalah kita bisa mengambil sikap dalam menyikapi permasalahan. Seperti Reyog Kendhang asal daerah Tulungagung, menurut sekilas cerita, bahwasanya asal usul Reyog Kendhang ini berasal dari penolakan lamaran yang dilakukan oleh Putri Dewi Kilisuci terhadap seorang Raja Bugis. Memang leluhur kita, selalu mengaitkan antara peristiwa dengan bentuk kesenian, salah satunya Reyog Kendhang ini. Menurut cerita yang dituturkan oleh Bapak Endin, Beliau seorang penggerak kesenian dan kebudayaan di Tulungagung, menceritakan dahulu kala ada Raja Bugis yang ingin melamar putri Kediri, yaitu Dewi Kilisuci, akan tetapi yang disuruh melamar adalah prajuritnya. Namun ketika diperjalanan dari Bugis ke Kediri, rombongan mereka kesasar (salah arah) sesampainya di Madiun. Prajurit tersebut kesasar, akhirnya melewati daerah Ponorogo-Trenggalek-Tulungagung. Sesampainya di Kota Kediri, setelah bertemu dengan Putri Dewi Kilisuci, prajurit tersebut menyampaikan amanah dari Sang Raja, untuk melamar putri tersebut. Putri Dewi Kilisuci, secara halus mengatakan bahwa menerima lamaran tersebut asalkan Raja Bugis bisa mempersembahkan; (1). Mata ayam tukung sebesar terbang miring digantung di gubuk penceng; (2). Seruling pohon padi sebesar batang kelapa; (3). Dendeng tumo sak tetelan pulut (jadah); (4). Ati tengu sebesar guling; (5). Madu lanceng enam bumbung; (6). Binggel emas bisa berbunyi sendiri. Namun persyaratan tersebut merupakan kiasan halus untuk menolak lamaran dari suruhan Raja Bugis. Mendengar apa yang diminta oleh putri tersebut, akhirnya prajurit merasa kebingungan, sebab sang raja sudah mengamanahi kalau belum berhasil untuk melamar putri tersebut mereka tidak boleh kembali ke kerajaan. Akhirnya para prajurit berinisiatif untuk menuju ke arah selatan, yaitu ke kawasan daerah Tulungagung. Akhirnya di daerah Tulungagung para prajurit tersebut meminta tolong pada warga Dhadhap Langu, untuk mengartikan kiasan yang disampaikan oleh Putri Dewi Kilisuci. Dengan adanya bantuan dari warga Dhadhap Langu tersebut, kiasan syarat yang dikatakan prajurit diartikan sekaligus dibuatkan dalam bentuk benda. Adapun makna kiasan dari Putri Dewi Kilisuci tersebut, yaitu; (1). Mata ayam tukung sebesar terbang miring digantung di gubuk penceng, mempunyai makna Gong kempul yang digantung pada gayornya; (2). Seruling pohon padi sebesar batang kelapa, mempunyai makna slompret; (3). Dendeng tumo sak tetelan pulut (jadah), yang mempunyai arti kenong; (4). Ati tengu sebesar guling, yang mempunyai arti iker atau ikat; (5). Madu lanceng enam bumbung, bisa diartikan Dhodhok atau Gemblug yang berjumlahkan enam; (6). Binggel emas bisa berbunyi sendiri, yang diartikan gongseng. Itulah makna kiasan persyaratan untuk melamar, yang disampaikan oleh Putri Dewi Kilisuci kepada prajurit Raja Bugis. Setelah itu, para prajurit merasa senang dan tenang jiwanya, karena apa yang menjadi ganjalan sudah bisa teratasi. Uniknya ketika mereka, prajurit ingin membawa barang tersebut ke hadapan putri Kediri terbentuklah suatu gerak seni, yang sekarang diaplikasikan pada Reyog Kendhang. Adapun gerak seni yang tercipta secara alami, diantaranya; peralatan tadi sebelum diserahkan kepada sang putri, sang prajurit berdoa memohon kepada Sang Pencipta Alam, maka para prajurit memandang bawah dan ke atas lalu kekanan-kekiri. Maka terciptanya gerak Sumi Langit (Sundangan). Para prajurit melalui semedi dengan geduk tanah supaya diterima barang-barangnya maka terciptalah gerak Gejoh Bumi. Para prajurit setelah semedi mengantarkan persembahan (Bebono). Maka tercipta Gerak Joget Menthokan (munduk-munduk). Setelah barang-barang diserahkan maka para prajurit mundur/lengser, maka terciptalah Gerak Patetan. Setelah barang-barang diteliti para prajurit melingkar menyaksikan, maka terciptakah Gerak Joget Lilingan. Setelah dinyatakan cocok diterima barang-barang itu para prajurit kaget terciptalah joget Mindak Kecik Noleh Kanan Noleh Kiri. Para prajurit memuncak kegirangannya, maka tercipta Gerak Joget Andul (engklek). Setelah para prajurit bersenang sang putri khidmat menciptakan sesosok tubuh melesat masuk sumur, prajurit tahu. Semua melihat sumur maka tercipta Gerak Ngungak Sumur. Setelah melihat sumur sangat dalam, maka tercipta joget Kejang Jinjit. Setelah sang putri tidak muncul, hilang, para prajurit berbalik gembyang. Para prajurit merasa tidak berhasil untuk melamarkan Raja Bugis, maka dengan tangan hampa prajurit pulang, terciptalah Gerak Baris Lagi. Itulah sekilas mengenai Reyog Kendhang asal daerah Tulungagung, pada tahun 2009 telah terdaftar di HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) Indonesia, di Jakarta. Perlu kita menyadarinya, bahwasanya dengan peristiwa yang terjadi di lingkungan bisa dijadikan sebagai bentuk kesenian lokal. Masih belum terlambat, untuk kesenian maupun kebudayaan daerah yang lain untuk di hak patenkan, sebelum negara lain mengambil kekayaan intelektual kita. a. Hubungan Kebudayaan dengan Pendidikan Seni tradisi yang ada disetiap daerah, memang mempunyai ciri tersendiri, antar daerah pasti berbeda. Seperti halnya antara Reyog Kendhang Tulungagung dengan Reyog Ponorogo, justru dari perbedaan ciri khas tersebut akan memunculkan kekayaan khasanah kesenian. Kearifan seni yang terdapat di daerah, merupakan wujud dari masyarakatnya berbudi luhur, mempunyai etika ramah dan tamah terhadap orang lain. Aksi serta refleksi kesenian tradisional yang ada di Tulungagung, terutama Reyog Kendhang, merupakan keseimbangan hidup manusia dengan lingkungan. Kesenian Reyog Kendhang sendiri, menyimpan pendidikan nonformal secara tidak langsung dalam bentuk seni gerak. Sehingga dengan berkesenian (Reyog Kendhang), kita seakan-akan bisa mentransformen kearifan hidup, antara tradisi dan perkembangan zaman seperti sekarang. Hasil mempelajari, bisa dikata penyeimbangan antara gerak dan pendidikan hidup bisa berkesinambungan. Kehidupan berseni itu merupakan proses kearifan lokal bagi sebuah masyarakat. Mungkin, terdapat perbedaan yang signifikan antara masyarakat Tulungagung dan juga masyarakat Ponorogo, itu jelas. Kesenian, salah satu kegiatan (proses) yang menitikberatkan terhadap pembangunan karakter spiritualitas. Orang terdahulu (leluhur) selalu menggabungkan antara mental spiritualitas dengan seni budaya yang ada di lingkungan (masyarakat). Lingkungan juga mempengaruhi didalam terbentuknya sebuah seni tradisi. Seperti halnya Reyog Kendhang dan Reyog Ponorogo, namanya hampir mirip, tapi dalam bentuk seni gerak maupun filosofinya tentu tidak sama. Meskipun sama-sama namanya reyog, disetiap daerah akan berbeda. Bisa saja di waktu yang akan datang, muncul Reyog Mojokertoan, Reyog Madiunan, Reyog Suroboyoan, dan reyog-reyog lainnya. Siapa menyangka, nanti kearifan lokal disetiap daerah akan muncul dari tidur nyenyaknya, dalam bentuk reyog maupun seni tradisi lain. Reyog dapat kita katakan merupakan bentuk tarian yang sengat sederhana, sebab si penari (yang menari bersama-sama) masing-masing membawa instrumen sendiri yang berupa gendang. Reyog yang terdapat di Jawa Timur, khusus hanya menari saja. Reyog yang terdapat di Jawa Barat agak berbeda dengan di Jawa Timur. Reyog di Jawa Barat tidak terus menerus menari saja, tetapi ada saat-saatnya berdialog antara penari-penari itu sendiri. Tentang dasar tarian reyog dan instrumennya rupa-rupanya sama saja, antara yang terdapat di Jawa Timur dan Jawa Barat.